Minggu, 29 Juni 2014

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

A.      IDENTITAS PENGAJAR
Nama                                            : Adnavi Ulfa
Tempat Tanggal Lahir      : Jakarta, 24 Juli 1995
Umur                                            : 19 Tahun
Status                                           : Mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Jurusan                                         : Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam
Prodi                                            : Pendidikan Fisika
Semester                                       : Dua (II)
B.       IDENTITAS SISWA
Nama                                            : Lina Sabila
Tempat Tanggal Lahir                  : Tangerang, 1 Desember        1997
Umur                                            : 17 tahun
Tingi Badan                                 : 158 cm
Berat Badan                                 : 50 kg
C.      RPP
Nama Sekolah      : SMA Daar El-Qolam
Mata Pelajaran     : Fisika
Kelas/Semester     : X/Dua          
Peminatan            : M-IPA
Alokasi Waktu     : 4 x 3 JP
Materi Pokok       : Elastisitas

D.      Kompetensi Inti
KI 1  :Menghayati dan mengamalkan  ajaran agama yang dianutnya.
KI 2  :Mampu berfikir logis dalam situasi yang mendesak. Mampu mengatur emosi dalam segala tindakan sehingga menimbulkan konsep diri dan kepribadian yang tenang dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan.Seiring dengan penalaran kognitif yang meningkat, mempengaruhi prilakunya secara sadar dan tidak sadar. (Teori Field Lewin)
KI 3  :Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, meningkatkan kemampuan beradaptasi dengan lingkungannya (asimilasi), sehingga menjadi pribadi yang peduli terhadap sesama, membangkitkan semangat bangsa pada dirinya untuk berjuang dengan melihat kondisi negaranya. (Teori Piaget)
KI 4  :Mengolah,  menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak  terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan. (Teori Discovery Learning)

E.       Kompetensi Dasar
         Menganalisis sifat elastisitas bahan dalam kehidupan sehari hari
Mengolah dan menganalisis hasil percobaan  tentang sifat elastisitas suatu bahan
         Memecahkan masalah elastisitas dalam kehidupan sehari-hari

F.       Indikator
·       Menjelaskaan karakteristik benda elastis sesuai hukum Hooke
·       Melakukan percobaan hukum Hooke
·       Menentukan konstanta pegas berdasarkan percobaan
·       Membedakan stress dan strain
·      Menganalisis susunan pegas seri dan paralel
·      Menemukan penerapan sifat elastis dalam kehidupan dan teknologi

G.      Tujuan Pembelajaran
Setelah proses mencari informasi, menanya, berdiskusi, dan melaksanakan percobaan  siswa mampu:
Perkembangan kognitif (cognitive development)
Yakni perkembangan fungsi intelektual atau proses perkembangan kemampuan/kecerdasan otak anak.
Seorang pakar terkemuka dalam disiplin psikologi kognitif dan psikologi anak, Jean Piaget (sebut: Jin Piasye), yang hidup antara tahun 1896 sampai tahun 1980, berpendapat bahwa kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya sudah dirintis sejak anak lahir, yang kemudian berkembanglah proses belajar anak sejalan dengan tahapan perkembangannya, yang disebut sebagai perkembangan kognisi anak atau perkembangan daya tangkap anak. Piaget sendiri membagi tahap perkembangan kognitif anak dalam 4 tahap yaitu:
1)    Tahap sensomotorik (lahir - 2 tahun)
2)    Tahap praoperasional (2 - 7 tahun)
3)    Tahap konkret-operasional (7 - 11 tahun)
4)    Tahap formal-operasional (12 tahun ke atas)
(Ratih : 2009)
a.     Tahap sensorimotorik
Tahap sensori motor terjadi pada umur sekitar 0-2 tahun. Dalam tahap ini anak dicirikan dengan tindakannya yang suka menirukan dan bertindak secara refleks. Anak dalam tahap ini hanya memikirkan apa yang terjadi sekarang. Anak akan meniru apa yang dibuat orang dewasa maka model penanaman nilai perlu dengan cara menirukan, dan orang dewasa sebagai teladan yang ditirukan.
b.    Tahap  praoperasional
Pada tahap pra-operasional yang terjadi pada umur 2-7 tahun, anak mulai menggunakan symbol dan bahasa.Dengan penggunaan bahasa anak mulai dapat memikirkan yang tidak terjadi sekarang tetapi yang sudah lalu. Dengan adanya bahasa maka ia dapat mengungkapkan sesuatu hal yang lebih luas daripada yang dapat dijamah, yang sekarang dilihatnya. Dalam hal sikap pribadi, anak pada tahap ini masih egosentris, berpikir pada diri sendiri.Penanaman nilai mulai dapat menggunakan bahasa, dengan bicara, dan sedikit penjelasan.
c.     Tahap opeasional-konkret
Pada tahap operasional konkret, umur 7-11 tahun, anak sudah mulai berpikir transformasi reversible (dapat dipertukarkan) dan kekekalan.Dia dapat menegerti adanya perpindahan benda, mulai dapat membuat klasifikasi, namun dasarnya masih pada hal yang konkret.Anak sudah dapat mengerti persoalan sebab akibat.Maka dalam penanaman nilai pun sudah dapat dikenalkan suatu tindakan dengan akibatnya yang baik dan tidak baik.
d.    Tahap Operasional Formal
Tahap operasi formal adalah tahap terakhir dari perkembangan kognitif.Pada tahap ini anak sudah mampu berpikir secara abstrak, hipotesis, mampu menggunakan logika, membedakan antara fakta dan fantasi, mengelola perasaan, dan juga berpikir secara deduktif dan induktif.  Perkembangan yang sehat dan normal membuat anak pada usia ini sudah mampu memecahkan masalah-asalah dengan menggunakan berbagai alternatif dan memahami berbagai masalah yang kompleks dan rumit.
Perkembangan kognisi yang sedang menuju kedewasaan menyebabkan mereka mampu berpikir kritis dan berani mengevaluasi diri.Kemampuan daya piker yang semakin baik membuat mereka mampu menggunakan alternative dan mengantisipasi berbagai kemungkinan konsekuensi atas keputusan mereka. Awas tayangan televise. Drs. E.B. Surbakti, M.A. 2008 PT Elex Media Komputindo, jakarta

1.      Memberikan contoh fenomena-fenomena elastisitas yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. (C2)
Pada tahap ini anak sudah masuk pada tahap operasi formal dimana sudah mampu mengaitkan teori yang abstrak seperti Hukum Hooke yang hanya berisikan symbol dan keterangannya dengan peristiwa yang terjadi di alam. Hal ini bertujuan untuk meluaskan pikirannya dan mengembangkan kognitifnya agar bias menuju kepada ranah cipta, kreativitas, dan inovasi. Dengan melihat dampak negatif pada kehidupan ia bias mencari solusi untuk memecahkannya yang membawa pikirannya dalam ranah cipta dan aplikasinya. Dari dampak positif yang terjadi ia dapat membuat inovasi dari peristiwa itu untuk menjadikannya berguna dalam kehidupan sehari-hari.
2.      Menghasilkan nilai konstanta dari percobaan yang dilakukan. (C3)
dari percobaan yang dilakukan siswa tahap operasi formal mampu menghitung nilai konstanta elastisitas pada benda dari data-data yang ia dapatkan. Ini melatih ketelitian dalam diri siswa. Jika tidak teliti hal ini akan berdampak pada kesalahan nilai konstanta benda yang dihasilkan yang diujicoakan dengan persamaan dalam teori. Disini melatih kognisis siswa dalam mengevaluasi hasil pekerjannya.
3.      Mengkategorikan benda-benda yang bersifat elastis. (C5)
Disini siwa dapat menentukan mana benda yang bersifat elastis dan mana yang tidak. Siswa sudah bisa mengidentifikasi dan menganalisa yang akan melatih kognisinya pada pengambilan kesimpulan. Dalam kehidupannya sehari hal ini membantu dia dalam memecahkan masalah dalam hidupnya ketika ia dihadapi hal-hal banyak yang ingin ia kerjakan, ia dapat memilih yang mana sangat prioritas dan bermanfaat baginya maka ia akan melakukan hal itu dahulu.
Siswa disini sudah dikategorikan dalam kelompok remaja, dalam teori perkembangan kognitif Piagetian masa remaja adalah tahap transissi dari penggunaan berpikir konkret secara operasional ke berfikir formal secara operasional. Mereka menilai pengalaman dengan masalah yang kompleks, tutntutan dari pengajaran formal, dan tukar-menukar ide yag berlawanan dengan kelompok remaja, diperlukan untuk perkembangan berpikir secara operasional. Remaja yang mampu mengatasi kelemahan pada dirinya mencapai tingkat berpikir setingkat orang dewasa.
Sri esti W.D. psikologi pendidikan edisi revisi grasindo Jakarta
Pengertian Sikap dan Perilaku yang Bermoral
Setiap orang pada umumnya sulit untuk melepaskan perasaan senang dan tidak senang dari persepsi dan prilakunya ketika berinteraksi dengan suatu obyek tertentu.
Dalam mental kita selalu saja ada mekanisme mental yang mengevaluasi, membentuk
pandangan, mewarnai perasaan, dan ikut menentukan kecenderungan perilaku kita terhadap manusia atau sesuatu yang sedang kita hadapi, bahkan terhadap diri kita sendiri.Pandangan dan perasaan kita dipengaruhi oleh ingatan kita akan masa lalu, oleh apa yang kita ketahui dan kesan kita terhadap apa yang sedang kita hadapi. (Azwar, 1998: 3)
Itulah fenomena sikap yang timbulnya tidak saja ditentukan oleh keadaan obyek yang sedang kita hadapi tetapi juga oleh kaitannya dengan pengalaman-pengalaman masa
lalu, oleh situasi saat ini, dan oleh harapan-harapan kita untuk masa yang akan datang.
Dengan demikian untuk selalu dapat bersikap positif, seseorang perlu dilatih mentalnyasejak kecil dengan pengalaman-pengalaman yang positif (citra positif) dan dibiasakan menghadapi persoalan-persoalan dengan persepsi positif juga.
Menurut Thurston, Likert, dan Osgood (Azwar, 1998: 5):
Sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan.Sikap seseorang terhadap suatu obyek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung dan tidak memihak (unfavorable) pada obyek tersebut.
Sementara menurut La-Pierre (Azwar, 1998: 5) sikap lebih diartikan sebagai suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan
diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah respon terhadap stimuli
sosial yang telah terkondisikan. Sikap seseorang terhadap sesuatu obyek umumnya dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianut dan melatarbelakangi seseorang tersebut sebagai pengalaman hidupnya. Orang yang telah tertanam dan terkristal nilai-nilai tertentu dalam mental atau kepribadiannya, tentunya dalam menghadapi dan merespon sesuatu tersebut akan diwarnai oleh nilai-nilai yang diyakininya. Berbicara sikap biasanya selalu dikaitkan dengan perilaku yang berada dalam batas kewajaran dan kenormalan yang merupakan respon atau reaksi terhadap stimulus lingkungan sosial. Menurut teori tindakan beralasan oleh Icek Ajzen dan Martin Fishbein (Azwar,
1998: 11), dikatakan bahwa sikap mempengaruhi perilaku melalui suatu proses pengambilan keputusan yang teliti dan beralasan, dan dampaknya hanya pada tiga hal.
4.      Pertama, perilaku tidak banyak ditentukan oleh sikap umum tetapi ditentukan oleh sikap specific (rasionalitas) terhadap sesuatu. Kedua, perilaku tidak hanya dipengaruhi oleh sikap, tetapi juga oleh norma-norma subyektif yaitu keyakinan kita mengenai apa yangorang lain inginkan, agar kita perbuat. Ketiga sikap terhadap suatu perilaku bersama-sama norma subyektif membentuk suatu intensi atau niat untuk berperilaku tertentu.Secara sederhana teori ini mengatakan bahwa seseorang akan melakukan suatu perbuatan (perilaku) apabila ia memandang perbuatan itu positif dan bila ia percaya bahwa oranglain ingin agar ia melakukannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seseorang yang yakin bahwa tindakan (perilaku) yang akan dilakukan menimbulkan dampak positif pada dirinya, ia akan bersikap cenderung melakukan tindakan tersebut. Begitu sebaliknya jika ia yakin tindakan yang dilakukannya berdampak negatif pada dirinya, ia bersikap menolak melakukan tindakan tersebut. Hal ini disebut keyakinan pribadi.
Selain berhubungan dengan perilaku, sikap juga berhubungan dengan perkembangan nilai individu dan juga perkembangan moral dan mental etis seseorang. Hal ini sebagaimana di ungkapkan oleh Martin and Briggs (1986: 447), bahwa: “ Attitudes, we believe, form the building blocks for values development and for the development of moral and ethical stances.” 
Kita percaya bahwa sikap membentuk blok bangunan perkembangan nilai dan perkembangan moral dan mental etis). Dengan demikian untuk membentuk seseorang yang memiliki moral yang baik dan bermental etis perlu memperhati kan perkembangan sikapnya.
Pembentukan Sikap dan Perilaku
Sikap terbentuk melalui hasil belajar dari interaksi dan pengalaman seseorang, dan bukan faktor bawaan (faktor intern) seseorang, serta tergantung obyek tertentu (Jalaluddin, 1996:187).
Dengan demikian sikap terbentuk oleh adanya interaksi social yang di alami oleh individu.Menurut Darmiyati Zuchdi (1995: 57) bahwa dalam interaksi sosial, individu membentuk pola sikap tertentu terhadap objek psikologis yang dihadapinya. Azwar (1998: 30) menyebutkan berbagai faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap itu antara lain yaitu; pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggab penting, media massa, lembaga pendidikan atau lembaga agama, dan faktor emosi dalam diri individu. Menurut pandangan psikologi, sikap mengadung unsur penilaian dan reaksi afektif, sehingga menghasilkan motif. Menurut Mar’at (Jalaluddin, 1996: 189), menyatakan bahwa motif menentukan tingkah laku nyata (overt behavior) sedangkan reaksi afektif bersifat tertutup (covert). Motif sebagai daya pendorong arah sikap negative atau positif akan terlihat dalam tingkah-laku nyata pada diri seseorang atau kelompok.
Sedangkan motif dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu dapat diperkuat oleh komponen afeksi. Motif demikian biasanya akan menjadi lebih stabil. Pada tingkat tertentu motif akan berperan sebagai central attitude (penentu sikap) yang akhirnya akanmembentuk predisposisi.Proses ini terjadi dalam diri seseorang terutama pada tingkatusia dini. Predisposisi menurut Mar’at (Jalaluddin, 1996: 189) merupakan sesuatu yangtelah dimiliki seseorang semenjak kecil sebagai hasil pembentukan dirinya sendiri.
Dalam hubungan ini tergambar bagaimana hubungan pembentukan sikap sehingga menghasilkan pola tingkah laku tertentu. Dengan demikian pembelajaran nilai-nilai moral kepada anak sejak dini usia bagaimananpun akan berpengaruh dalam membentuk kesadaran dan pengalaman moral pada diri anak yang pada akhirnya akan berpengaruh pada sikap dan pola tingkah laku anak dalam kehidupan selanjutnya
Pengembangan Sikap Dan Perilaku Siswa Yang Bermoral
Moralitas
Menyangkut apa yang seharusnya atau yang seharusnya tidak dilakukan dalam situasi tertentu, apa yang benar atau yang salah dengan melakukannya, apa yang baik dan apa yang buruk pada tindakannya orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Teori Perkembangan moral Kohlberg
Ada 3 tingkatan perkembangan moral
1.      Prakonvensional : di mana perilaku benar dipandang sebagai apapun yg secara langsung menguntungkan dirinya sendiri. (perlu motivasi)
2.      Konvensional : norma-norma keluarga, kelompok dan masyarakat diterima sebagai standar moralitas yang final. (menyenangkan orang lain)
3.      Pascakonvensional : bila seseorang memandang standar benar dan salah sebagai seperangkat prinsip berkaitan dengan hak dan kebaikan umum yg tidak dapat dikurangi oleh kepentingan pribadi atau kesepakatan dan kebiasaan sosial.
Teori perkembangan Moral Gilligan
Teori dengan mempertimbangkan gender
·         Laki-laki : memecahkan permasalahan dgn menentukan kaidah moral mana yang paling penting dan harus mengkesampingkan kaidah moral yang lain
·         wanita : lebih pada mempertahankan hubungan personal dengan semua orang yang terlibat dalam situasi.
Teori perkembangan Moral Gilligan
Ada 3 tingkatan perkembangan moral
1.      Prakonvensional : orang disibukkan dengan penalaran egois.
2.      Konvensional : kesibukan berlawanan dgn tak merugikan orang lain dan dengan kemauan mengorbankan kepentingan diri sendiri.
3.      Pascakonvensional : individu menjadi mampu mencapai keseimbangan berdasarkan penalaran antara memperhatikan orang lain dan mengejar kepentingan sendiri sementara menjalankan hak-haknya.
5.      Memperbandingkan hasil analisa awal dengan hasil setelah percobaan (A4)
Dalam hal ini siswa sudah tertarik dalam melakukan percobaan karena ia sudah membandingkan dengan hipotesa awal. Bagaimana siswa menyikapi kesalahan hipotesa awalnya? Menurut teori gender Gilligan wanita  lebih cenderung untuk menerima kesalahan namun ia akan menggunakan bahasa yang sopan dalam mengungkapkan kesalahannya kepada guru. Karena remaja kurang suka memperlihatkan kekurangannya dengan jelas karena akan mengurangi daya tariknya. Hal ini tentu melatih sikap ia dalam menerima kritik dengan tidak emosi dalam menanggapinya.
4.      Memperlihatkan hasil dari pecobaan dengan membuat susunan laporan metode ilmiah. (A5)
Hal ini membantu siswa untuk bersikap sistematis dan bertanggung jawab dari hal apa yang ia lakukan. Sistematis akan membawa kehidupan yang teratur dengan tujuan hidup yang jelas.
Menurut teori siswa ini masuk dalam tahap pasca konvensional dimana menurut Gilligan siswa menjadi mampu mencapai keseimbangan berdasarkan penalaran antara memperhatikan orang lain dan mengejar kepentingan sendiri sementara menjalankan hak-haknya.
Perkembangan Psiko-Siswa
Perkembangan motor (motor development)
Yakni proses perkembangan yang progresif dan berhubungan dengan perolehan aneka ragam keterampilan fisik anak (motor skills). Belajar keterampilan fisik (motor learning) dianggap telah terjadi dalam diri seseorang apabila ia telah memperoleh kemampuan dan keterampilan yang melibatkan penggunaan lengan (seperti menggambar) dan tungkai (seperti berlari) secara baik dan benar.Untuk belajar memperoleh kemampuan keterampilan jasmani, ia tidak hanya cukup dengan latihan dan praktik, tetapi juga memerlukan kegiatan perceptual learning (belajar berdasarkan pengamatan) atau kegiatan sensory-motor learning (belajar keterampilan indriawi-jasmani).
Dalam kenyataan sehari-hari, cukup banyak keterampilan indriawi-jasmani yang rumit dan karenanya memerlukan upaya manipulasi (penggunaan secara cermat), koordinasi, dan organisasi rangkaian gerakan secara tepat, umpamanya keterampilan bermain piano.
Demikian besarnya ketergantungan kinerja keterampilan jasmani tersebut pada keterlibatan ranah cipta terbukti dengan sering munculnya kekeliruan siswa yang malas berpikir dalam hal menulis, menggambar, dan memeragakan fisik tertentu. Dengan demikian, hampir dapat dipastikan bahwa apabila sebuah aktivitas keterampilan jasmani seseorang (siswa), seperti menyalin pelajaran, dilakukan secara otomatis tanpa perhatian fungsi ranah cipta yang memadai, walaupun ia sudah biasa karena sering melakukannya, kesalahan mungkin akan terjadi.
Sehubungan dengan hal itu, motor skills (kecakapan-kecakapn jasmani) perlu dipelajari melalui aktivitas pengajaran dan latihan langsung, bisa juga melakukan pengajaran teori-teori pengetahuan yang bertalian dengan motor skills  itu sendiri.Aktivitas latihan perlu dilaksanakan dalam bentuk praktik yang berulang-ulang oleh siswa, termasuk praktik gerakan-gerakan yang salah dan tidak dibutuhkan, sehingga siswa memahami bagian yang keliru dan dapat segera melakukan perbaikan.Akan tetapi, dalam praktik itu hendaknya dilibatkan pengetahuan ranah akal siswa.Praktik tanpa melibatkan ranah akal, umpumanya insight (tilikan akal) siswa yang memadai terhadap teknik dan patokan kinerja yang diperlukan, tak dipandang bernilai dan hanya ibarat orang yang sedang senag beramai-ramai.
Selanjutnya, ada empat macam faktor yang mendorong kelanjutan perkembangan motor skills anak yang juga memungkinkan campur tangan orang tua dan guru dalam mengarahkannya, yaitu: 1) pertumbuhan dan perkembangan system syaraf; 2) pertumbuhan otot-otot; 3) perkembangan dan perumbuhan fungsi kelenjar endokrin; dan 4) perubahan struktur jasmani.

6.      Mempersiapkan alat-alat percobaan yang digunakan sesuai prosedur dan mengawali dengan doa (P2)
Dalam tujuan ini siswa diharuskan mempersiapkan alat-alat yang akan dibutuhkan pada praktikum. Dari sini guru bisa melihat bagaimana kecekatan siswa dalam memilih alat-alat praktikum. Hal ini mencegah adanya hambatan dalam praktikum ketika berlangsung contoh lupa mengambil alat neraca atau mencari alat-alat praktikum yang akan menghabiskan waktu dan bisa menghilangkan konsentrasi siswa dalam menganalisis percobaan.  Karena tidak semua alat-alat di laboratorium itu dipraktikkan, sehingga dalam mempersiapkan barang ini siswa juga butuh ranah akalnya. Jika siswa hanya bergerak mengambil barang-barang saja tanpa menggunakan ranah akalnya memungkinkan siswa melakukan kesalahan pada percobaan sehingga menyulitkan dirinya. Disini kegiatan sensory-motor learning dan perceptual learning berlangsung.

7.      Memasang alat-alat percobaan (P3)
Disini guru menginginkan siswanya untuk memasang sendiri alat percobaannya.Karena meode ini menggunakan metode belajar kognitif dimana guru menjadi pemandu dan memberikan ruang bagi siswa, sehingga murid hanya diberikan modul praktikum dan siswa menganalisa sendiri modul tersebut dan mencoba melaksanakan percobaannya dengan memasang alat-alat yang telah dipersiapkan oleh dirinya sendiri.
Setelah selesai memasang siswa akan melakukan percobaan yang dicantumkan dalam tujuan kogntif di atas.
Disini siswa dikataegorikan remaja dalam perkembangan psikomotornya.Tujuan ini dibuat untuk mencapai kematangan atau kesediaan psikomotornya.Kesediaan ini termasuk perkembangan fisikal dalam otot, tulang, anggota dan pengawalan penyelarasan pergerakan di seluruh tubuh.Kemahiran psikomotor dapat dipelajari dengan baik melalui latihan dan demonstrasi yang intensif serta daripada hasil maklum balas yang diperoleh mengenai prestasi murid.Dalam percobaan Mc Graw (dalam Cecco, 1968 dan Habibah dan Rahil, 1990) dua anak yang kembar diberikan pembelajaran erbeda.Satu anak diberikan latihan berupa kognitif sajadan yang satu lagi diberikan pembelajaran kognitif dan psikomotor.Pada bulan kedelapan belas didapati hasil prestasi yang berbeda.Kajian ini meunjukkan kesediaan adalah produk daripada atihan dan kematangan.
Kesediaan psikomotor dapat dilihat dari dua komponen.Kematangan fisik dan kemahiran asas.Kematangan fisik adalah aspek-aspek organic dan menentukan tahap kematangan individu (Sharifah 1986).Kematangan fisik remaja biasanya sempurna dan tercapai pada umur tujuh belas dan delapan belas tahun. Kematangan fisik akan membawa pada kemahiran asas.
Menurut Ee Ah Meng (1994), kemahiran asas yang ada pada seorang individu menjadikannya lebih bersedia mempelajari sesuatu. Setelah percobaan ini siswa dapat memperbaiki alat-alat yang berhubungan dengan elastisitas dengan dasar hokum Hooke.  (intrapersonal dan interpersonal untuk remaja Shahizan, Tsai Chen Chien, Saw Hooi Chin, PTS Professional Publishing < kuala Lumpur, 2003)  Seperti permainan ketapel ia bisa memiih karet mana yang kuat untuk menarik batu yang akan dilemparkan karet gelang atau potongan bekas karet ban.
KARAKTER YANG DIHARAPKAN PADA SISWA
·                Jujur
·                Mampu beradaptasidimanapun ia ditempatkan
·                Teliti
·                Bertanggung Jawab
Perkembangan emosi pada anak
1.             Pengertian Emosi
Menurut Sarlito Wirawan Sartono berpendapat bahwa emosi merupakan setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif.Yang dimaksud warna efektif ini adalah perasaan-perasaan tertentu yang dialami pada saat menghadapi (menghayati) suatu situasi tertentu.contohnya: gembira, bahagia, takut dan lain-lain. (Syamsu, 2008).
Berdasarkan pendapat dari para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa emosi adalah suatu keadaan yang kompleksi dapat berupa perasaan / pikiran yang di tandai oleh perubahan biologis yang muncul dari perilaku seseorang.
2.             Pengelompokan Emosi
Emosi dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu emosisensoris dan emosi kejiwaan (psikis).
a.              Emosi Sensoris
, yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap tubuh, seperti rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyangdan lapar.
b.             Emosi Psikis
,yaitu emosi yang mempunyai alasan – alasan kejiwaan.Yang termasuk emosi jenis ini diantaranya adalah :
1)             Perasaan Intelektual, yaitu yang mempunyai sangkut paut denganruang lingkup kebenaran. Perasaan ini diwujudkan dalam bentuk :
a)       Rasa yakin dan tidak yakin terhadap suatu hasil karya ilmiah
b)      Rasa gembira karena mendapat suatu kebenaran
c)       Rasa puas karena dapat menyelesaikan persoalan – persoalan ilmiah yang harus dipecahkan
2)             Perasaan Sosial
yaitu perasaan yang menyangkut hubungan dengan orang lain, baik bersifat perorangan maupun kelompok. Wujud perasaan ini seperti :
a)       Rasa solidaritas
b)      Persaudaraan (ukhuwah)
c)       Simpati
d)      Kasih sayang, dan sebagainya
3)      Perasaan Susila
yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai –nilai baik dan buruk atau etika (moral). Contohnya :
a)             Rasa tanggung jawab (responsibility)
b)      Rasa bersalah apabila melanggar norma
c)       Rasa tentram dalam mentaati norma

4)      Perasaan Keindahan (estetis),
yaitu perasaan yang berkaitan erat dengan keindahan dari sesuatu, baik bersifat kebendaan ataupun kerohanian
a.       Perasaan Ketuhanan
,yaitu merupakan kelebihan manusia sebagai makluk Tuhan, dianugrahi fitrah (kemampuan atau perasaan) untukmengenal Tuhannya. Dengan kata lain, manusia dianugerahi insting religius (naluri beragama). Karena memiliki fitrah ini, maka manusia di juluki sebagai “Homo Divinans”dan “Homo Religius” atau makluk yang berke-Tuhan-an atau makhluk beragama (Syamsu, 2008).
3.             Pengaruh Emosi Terhadap Perilaku dan Perubahan Fisik Individu
Ada beberapa contoh pengaruh emosi terhadap perilaku individu
diantaranya :
a. Memperkuat semangat, apabila orang merasa senang atau puas atashasil yang telah dicapai.
b. Melemahkan semangat, apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan dan sebagai puncak dari keadaan ini ialah timbulnya rasa putus asa (frustasi).
c. Menghambat atau mengganggu konsentrsi belajar, apabila sedang mengalami ketegangan emosi dan bisa juga menimbulkan sikap gugup (nervous) dan gagap dalam berbicara.
d. Terganggu penyesuaian sosial, apabila terjadi rasa cemburu dan iri
hati.
e. Suasana emosional yang diterima dan dialami individu semasa kecilnya akan mempengaruhi sikapnya dikemudian hari, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain
F.         Perkembangan emosi pada anak usia sekolah
Perkembangan emosi pada anak melalui beberapa fase yaitu :
a. Pada bayi hingga 18 bulan
1) Pada fase ini, bayi butuh belajar dan mengetahui bahwa lingkungan di sekitarnya aman dan familier. Perlakuan yang diterima pada fase ini berperan dalam membentuk rasa percaya diri, cara pandangnya terhadap orang lain serta interaksi dengan orang lain. Contoh ibu yyang memberikan ASI secara teratur memberikan rasa aman padabayi.
2) Pada minggu ketiga atau keempat bayi mulai tersenyum jika ia merasa nyaman dan tenang. Minggu ke delapan ia mulai tersenyum jika melihat wajah dan suara orang di sekitarnya.
3) Pada bulan keempat sampai kedelapan bayi mulai belajar mengekspresikan emosi seperti gembira, terkejut, marah dan takut.Pada bulan ke-12 sampai 15, ketergantungan bayi pada orang yang merawatnya akan semakin besar. Ia akan gelisah jika ia dihampiri orang asing yang belum dikenalnya. Pada umur 18 bulan bayi mulai mengamati dan meniru reaksi emosi yang di tunjukan orang-orang yang berada di sekitar dalam merespon kejadian tertentu.
b. 18 bulan sampai 3 tahun
1) Pada fase ini, anak mulai mencari-cari aturan dan batasan yang berlaku di lingkungannya. Ia mulai melihat akibat perilaku dan perbuatannya yang akan banyak mempengaruhi perasaan dalam menyikapi posisinya di lingkungan. Fase ini anak belajar membedakan cara benar dan salah dalam mewujudkan keinginannya.
2) Pada anak usia dua tahun belum mampu menggunakan banyak kata untuk mengekspresikan emosinya. Namun ia akan memahami keterkaitan ekspresi wajah dengan
emosi dan perasaan. Pada fase ini orang tua dapat membantu anak mengekspresikan emosi dengan bahasa verbal.Caranya orang tua menerjemahkan mimik dan ekspresi wajah dengan bahasa verbal.
3)        Pada usia antara 2 sampai 3 tahun anak mulai mampu mengekspresikan emosinya dengan bahasa verbal. Anak mulai beradaptasi dengan kegagalan, anak mulai mengendalikan prilaku dan menguasai diri.
c.         Usia antara 3 sampai 5 tahun
1)Pada fase ini anak mulai mempelajari kemampuan untuk mengambil inisiatif sendiri. Anak mulai belajar dan menjalin hubungan pertemanan yang baik dengan anak lain, bergurau dan
melucu serta mulai mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.
2) Pada fase ini untuk pertama kali anak mampu memahami bahwa satu peristiwa bisa menimbulkan reaksi emosional yang berbeda pada beberapa orang. Misalnya suatu pertandingan akan membuat pemenang merasa senang, sementara yang kalah akan sedih.
d.         Usia antara 5 sampai 12 tahun
1)         Pada usia 5-6 anak mulai mempelajari kaidah dan aturan yang berlaku. Anak mempelajari konsep keadilan dan rahasia.Anak mulai mampu menjaga rahasia.Ini adalah keterampilan yang menuntut kemampuan untuk menyembunyikan informasi- informasi secara.
2)         Anak usia 7-8 tahun perkembangan emosi pada masa ini anak telah menginternalisasikan rasa malu dan bangga. Anak dapat menverbalsasikan konflik emosi yang dialaminya. Semakin bertambah usia anak, anak semakin menyadari perasaan diri dan
orang lain.
3)                  Anak usia 9-10 tahun anak dapat mengatur ekspresi emosi dalam situasi sosial dan dapat berespon terhadap distress emosional yang terjadi pada orang lain. Selain itu dapat mengontrol emosi negative seperti takut dan sedih. Anak belajar apa yang membuat dirinya sedih, marah atau takut sehingga belajar beradaptasi agar emosi tersebut dapat dikontrol (Suriadi & Yuliani, 2006).
4)        Pada masa usia 11-12 tahun, pengertian anak tentang baik-buruk, tentang norma-norma aturan serta nilai-nilai yang berlaku di lingkungannya menjadi bertambah dan juga lebih fleksibel, tidak sekaku saat di usia kanak-kanak awal. Mereka mulai memahami bahwa penilaian baik-buruk atau aturan-aturan dapat diubah,tergantung dari keadaan atau situasi munculnya perilaku tersebut. Nuansa emosi mereka juga makin beragam.

G. Fungsi emosi pada anak
Fungsi dan peranan emosi pada perkembangan anak yang dimaksud adalah :
a. Merupakan bentuk komunikasi.
b. Emosi berperan dalam mempengaruhi kepribadian dan penyesuaian diri anak dengan lingkungan sosialnya.
c. Emosi dapat mempengaruhi iklim psikologis lingkungan.
d. Tingkah laku yang sama dan ditampilkan secara berulang dapat menjadi satu kebiasaan.
e. Ketegangan emosi yang di miliki anak dapat menghambat aktivitas
motorik dan mental anak (Resa, 2010).
9. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi
a. Keadaan anak
Keadaan individu pada anak, misalnya cacat tubuh ataupun kekurangan pada diri anak akan sangat mempengaruhi perkembangan emosional, bahkan akan berdampak lebih jauh pada kepribadian anak. Misalnya: rendah diri, mudah tersinggung, atau menarik diri dari
lingkunganya.
b. Faktor belajar
Pengalaman belajar anak akan menentukan reaksi potensial mana yang mereka gunakan untuk marah. Pengalaman belajar yang menunjang perkembangan emosi antara lain:
1)      Belajar dengan coba-coba
Anak belajar dengan coba-coba untuk mengekspresikan emosinya dalam bentuk perilaku yang memberi pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberi kepuasan.
2)      Belajar dengan meniru
Dengan cara meniru dan mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang lain, anak bereaksi dengan emosi dan metode yang sama dengan orang-orang yang diamati.
3)      Belajar dengan mempersamakan diri
Anak meniru reaksi emosional orang lain yang tergugah oleh rangsangan yang sama dengan rangsangan yang telah membangkitkan emosi orang yang ditiru. Disini anak hanya meniru
orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya.
4)      Belajar melalui pengondisian
Dengan metode ini objek, situasi yang mulanya gagal memancing reaksi emosional kemudian berhasil dengan cara asosiasi. Pengondisian terjadi dengan mudah dan cepat pada awal- awal kehidupan karena anak kecil kurang menalar, mengenal betapa tidak rasionalnya reaksi mereka.
5)      Belajar dengan bimbingan dan pengawasan.
Anak diajarkan cara bereaksi yang dapat diterima jika suatu emosi terangsang. Dengan pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasanya membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak bereaksi secara emosional terhadap rangsangan yang membangkitkan emosi yang tidak menyenangkan (Fatimah, 2006)
c.Konflik – konflik dalam proses perkembangan
Setiap anak melalui berbagai konflik dalam menjalani fase-fase perkembangan yang pada umumnya dapat dilalui dengan sukses.  Namun jika anak tidak dapat mengamati konflik-konflik tersebut,biasanya mengalami gangguan-gangguan emosi
d.Lingkungan keluarga
Salah satu fungsi keluarga adalah sosialisasi nilai keluarga mengenai bagaimana anak bersikap dan berperilaku.Keluarga adalah lembaga yang pertama kali mengajarkan individu (melalui contoh yang diberikan orang tua) bagaimana individu mengeksplorasi emosinya.Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi perkembangan anak.Keluarga sangat berfungsi dalam menanamkan dasar-dasar pengalaman emosi, karena disanalah pengalaman pertama didapatkan oleh anak. Keluarga merupakan lembaga pertumbuhan dan
belajar awal ( learning and growing ) yang dapat mengantarkan anak menuju pertumbuhan dan belajar selanjutnya.
Gaya pengasuhan keluarga akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosi anak. Apabila anak dikembangkan dalam lingkungan keluarga yang emosinya positif, maka perkembangan emosi anak akan menjadi positif. Akan tetapi, apabila kebiasaan orang tua dalam mengekspresikan emosinya negatif seperti, melampiaskan kemarahan dengan sikap agresif, mudah marah, kecewa dan pesimis dalam menghadapi masalah, maka perkembangan emosi anak akan menjadi negatif (Syamsu, 2008).
Keterkaitan secara teoritik antara lingkungan keluarga dengan pengungkapan emosi juga dijelaskan oleh Goleman (2000), yang meninjau terjadinya proses pengungkapan emosi sejak awal yaitu pada masa anak-anak. Goleman (2000) menjelaskan bahwa cara-cara yang
digunakan orang tua untuk menangani masalah anaknya memberikan pelajaran yang membekas pada perkembangan emosi anak. Gaya mendidik orang tua yang mengabaikan perasaan anak, yang tercermin pada persepsi negatif orang tua terhadap emosi, emosi anak dilihat sebagai gangguan atau sesuatu yang selalu direspon orang tua dengan penolakan. Pada masa dewasa, anak tersebut tidak akan menghargai emosinya sendiri yang menimbulkan keterbatasan dalam mengungkapkan emosinya. Sebaliknya, pada kelurga yang menghargai
emosi anak yang dibuktikan dengan penerimaan orang tua terhadap ungkapan emosi anak, pada masa dewasa nanti anak akan menghargai emosinya sendiri sehingga ia mampu mengungkapkan emosinya pada
orang lain.
Pengertian bakat
Peserta didik adalah anak-anak yang memiliki ciri-ciri istimewa, misalnya bakat yang diturunkan dari orang tua dan atau nenek moyangnya. Setiap individu memiliki karakteristik yang berbeda-beda, termasuk dalam bidang dan kadar dari bakat yang dimilikinya.
Beberapa definisi bakat dikemukakan oleh sejumlah ahli psikologi dan
pendidikan. Branca (Fudyartanta, 2004) misalnya, seorang ahli yang membahas tentang bakat dan kreativitas, mengungkapkan bahwa
”An aptitude is an ability that is regarded as an indication of how well
individual can learn with training and practice, some particular skill or knowledge”.
Freeman (Fudyartanta, 2004) memberikan definisi yang senada yaitu
“An aptitude is a combination characteristics indicative an individual’s capacity to acquire (with training) some specific knowledge, skill or set of organized responses, such as the ability to speak a language, to become a musician, to do mechanical work.”
Di tempat lain, Renzulli (Munandar, 1999) mengungkapkan bahwa yang menentukan keberbakatan seorang individu tidak hanya karena kemampuan umumnya berada di atas rata-rata, melainkan juga kreativitas dan pengikatan diri terhadap tugas (task commitment).
Dengan bakat, memungkinkan seseora ng untuk mencapai prestasi dalam
bidang tertentu. Tetapi, untuk mewujudkan bakat ke dalam
suatu prestasi diperlukan latihan, pengetahuan, pengalaman, dan motivasi. Jika seseorang yang memiliki potensi bakat musik tetapi tidak memperoleh kesempatan mengembangkannya, maka bakat tersebut tidak akan berkembang dan terwujud dengan baik (menghasilkan prestasi). Sebaliknya anak yang pada dasarnya memiliki bakat musik dan orang tuanya mendukung, ia akan mengusahakan agar anaknya memperoleh pengalaman untuk mengembangkan bakatnya dan dengan motivasi yang tinggi dapat berlatih
sehingga bakatnya berkembang maksimal dan memperoleh prestasi.
Berkaitan dengan hal tersebut, U.S. Office of Education menekankan bahwa anak berbakat memerlukan pelayanan dan program pendidikan khusus sesuai denganpotensi, minat, dan kemampuan agar dapat merealisasikan sumbangan mereka terha-dap masyarakat dan untuk pengembangan diri sendiri. Jadi, bakat adalah seberapa baik seseorang memiliki kemampuan pada bidang pengetahuan atau ketrampilan khusus dengan berlatih.Bakat dapat dikembangkan secara maksimal melalui latihan dengan motivasi yang tinggi. Selain itu,
bakat ditentukan oleh seberapa baik kemampuan umum, kreativitas, dan komitmen siswa dalam menyelesaikan tugas. Bakat yang berkembang secara maksimal akan memberikan sumbangan yang berarti, baik untuk masyarakat maupun untuk pengembangan diri siswa yang bersangkutan.
Jenis-jenis Bakat Khusus
Berkaitan dengan adanya perbedaan individual, setiap anak memiliki bakat yang berbeda-beda. Semiawan dan Munandar (Ali & Asrori, 2005) mengklasifikasikan jenis-jenis bakat khusus, baik yang masih berupa potensi maupun yang sudah terwujud, menjadi lima bidang, yaitu: (1) bakat akademik khusus, (2) bakat kreatif produktif, (3) bakat seni, (4)
bakat kinestetik/psikomotorik, serta bakatsosial
Termasuk ke dalam bakat akademik khusus, misalnya bakat untuk memahami
konsep yang berkaitan dengan angka-angka (numeric), logika bahasa (verbal), dan sejenisnya. Bakat khusus dalam bidang kr eatif-produktif artinya bakat dalam hal menciptakan sesuatu yang baru, misalnya menghasilkan program komputer terbaru,
arsitektur terbaru, dan sejenisnya. Bakat khusus kreatif produktif akan dibahas lebih
mendalam pada subunit 3. Bakat khusus da lam bidang seni, misalnya mampu
mengaransemen musik yang digemari banyak orang, menciptakan lagu dalam waktu yang singkat, dan mampu melukis dengan in dah dalam waktu yang relatif singkat. Bakat khusus kinestetik/psikomotorik, antara lain sepak bola dan bulu tangkis. Adapun bakat khusus di bidang social antara lain mahir melakukan negosiasi, menawarkan suatu produk, berkomunikasi dalam organisasi, dan mahir dalam, kepemimpinan.
Hubungan antara Bakat dan Prestasi
Menurut Munandar (Ali & Asrori, 2005)perwujudan nyata dari bakat adalah
prestasi karena bakat sangat menentukan prestasi seseorang.
Sekalipun demikian orang yang berbakat belum tentu berprestasi.Hal ini karenat bakat bersifat potensial yang membutuhkan latihan dan pengembangan secara maksimal. Bakat khusus yang dikembangkan sejak dini akan dapat terealisasi dalam bentuk prestasi unggul.
Berdasarkan penelitian terakhir, ditem ukan bahwa sekitar 20% siswa SD dan SMP menjadi anak yang underachiever, artinya prestasi belajar yang mereka peroleh berada di bawah potensi atau bakat intelektual yang sesungguhnya mereka miliki.
Pengertian kreativitas
Kreativitas adalah nkemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas dalam berpikir serta kemampuan untuk mengelaborasi suatu gagasan
.” Utami Munandarmembahas lebih mendalam bahwa kreativitas merupakan hasil interaksi individu dengan lingkungannya. Lingkungan dapat mendukung berkembangnya kreativitas
dan dapat menghambat perkembangannya.
Kreativitas dapat muncul dalam situasi kebersamaan dan relasi yang bermakna.
Berdasarkan berbagai definisi kreativitas itu, Rhodes (Munandar, 1999)
mengelompokkan berbagai definisi tersebut ke dalam empat kategori, yaitu
person (pribadi) , press (pendorong) , process (proses), dan product (produk).
Berdasarkan penjelasan Sternberg, sejumlah definisi kreatif yang tergolong ke dalam kategori pribadi menyimpulkan bahwa pribadi dari individu yang kreatif merupakan titik pertemuan antara intelegensi (antara lain kemampuan verbal, pemikiran lancar, pengetahuan, perencanaan, perumusan masalah, dan keterampilan pengambilan keputusan); gaya kognitif (antara lain menciptakan aturan sendiri, melakukan hal-hal dengan caranya sendiri, menyukai masalah yang tidak terlalu terstruktur, dan senang merancang); dan kepribadian/motivasi (antara lain kelenturan, dorongan untuk berprestasi, keuletan dalam menghadapi rintangan, dankeberanian mengambil resiko yang moderat) (Munandar, 1999).
Kategori proses, Torrance (Sternberg dalam Munandar, 1999) mengungkapkan bahwa proses kreatif pada dasarnya serupa dengan langkah-langkah dalam metode ilmiah, yaitu kesadaran adanya kesulitan/masalah, membuat dugaan dan hipotesa, menguji dugaan/hipotesis, mengevaluasi dan menguji ulang hipotesis,serta menyimpulkan hasil temuan.
Kategori pendorong tidak hanya berasal dari diri sendiri (internal) tetapi juga dari lingkungan (eksternal).Simpson menjelaskan bahwa dorongan internal yaitu kekuatan untuk menyelesaikan masalah dengan tahapan yang tidak sesuai dengan ketentuan (Munandar 1999).Mengenai dorongan dari lingkungan, kreativitas tidak berkembang pada lingkungan yang tidakmenghargai imajinasi, lingkungan yang terlalu menekankan konformitas dan tradisi, dan kurang terbuka terhadap perubahan (Munandar 1999).
Kategori produk kreatif menekankan defnisinya pada orisinalitas, kebaruan,
dan kebermaknaan. Produk yang dihasilkan merupakan kombinasi dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya, sebagai contoh misalnya kursi roda merupakan perpaduan antara kursi dan roda.Produk kreatif mem iliki karakteristik yaitu produk tersebut harus nyata, baru, dan merupakan hasil unik individu dalam interaksinya dengan lingkungannya (Rogers dalam Munandar, 1999).
Keempat kategori P ini saling berkaitan. Pribadi kreatif yang melibatkan diri dalam proses kreatif, dengan dukungan/dorongan dari lingkungan menghasilkan suatu produk keratif. Dengan demikian, penting mengembangkan bakat kreatifseorang anak sejak dini yang dimulai dengan dorongan dari lingkungan, terutama lingkungan keluarga.
Hubungan antara Kreativitas dan Intelegensi
Apakah orang yang kreatif selalu memiliki intelegensi yang tinggi, atau apakah seseorang yang intelegensinya tinggi juga kreatif? Berdasarkan teori
”ambang intelegensi untuk kreativitas”, sampai tingkat intelegensi tertentu yang diperkirakan seputar IQ 120, ada hubungan yang erat antara intelegensi dan kreativitas.Produk kreativitas yang tinggi memerlukan tingkat intelegensi yang tinggi pula. Teori ini menemukan pula bahwa di atas ambang tersebut (IQ > 120) tidak ada korelasi yang tinggi lagi antara intelegensi dan kreativitas (Anderson,dalam Munandar, 1999).
Hurlock (1978) mengemukakan bahwa tidak semua orang dengan kecerdasan yang tinggi merupakan pencipta. Misalnya, banyak anak yang mencapai keberhasilan akademis, tetapi hanya sedikit yang menunjukkan cara berpikir kreatif. Korelasi yang tinggi antara kecerdasan dan kreativitas sebagian besar bergantung pada faktor di luar kreativitas dan kecerdasan.Faktor dalam lingkungan atau dalam diri seseorang sering mengganggu perkembangan kreativitas. Misalnya, cara mendidik anak yangterlalu otoriter di rumah atau di sekolah selama kanak-kanak akan membekukan kreativitas mereka, tetapi tidak mempengaruhi kecerdasan. Kondisi demikian menggambarkan hubungan yang rendah antara kreativitas dan kecerdasan.Di satu sisi, terdapat hubungan positif antara kecerdasan dan kreativitas.Kreativitas yang mengarah ke penciptaan sesuatu yang baru bergantung pada kemampuan untuk mendapatkan pengetahuan yang sudah umum diterima.Pengetahuan tersebutkemudian diolah ke dalam bentuk baru dan orisinal. Kreativitas tidak dapat berfungsi di dalam kekosongan, kreativitas menggunakan pengetahuan yang diterima
sebelumnya dan bergantung pada kemampuan intelektual seseorang (Hurlock, 1978).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa se kalipun ada hubungan positif antarakreativitas & kecerdasan, namun indeks hubungannya rendah.Orang yang cerdas belum tentu kreatif.Lingkungan merupakan faktor penting dalam menentukanpengembangan bakat kreatif berdasarkan kecerdasan yang dimiliki anak.
Materi Ajar
·         Benda plastis dan elastis
·         Sifat benda elastis, makin besar pertambahan panjang makin besar gaya pegas (hukum Hooke)
·         Stress, strain, dan modulus elastisitas
Stress              
Strain              
Strain              
·         Konstanta pegas           
·         Susunan pegas seri dan paralel
Seri, pegas semakin lemah     
Paralel, pegas semakin kuat   

Metode Pembelajaran
Metode yang digunakan adala metode belajar kognitif khusunya Discovery Learning
Alasan: di teori ini siswa diharuskan mencari pemahaman setelah diberikan panduan pada guru. Guru memberikan materi yang diajarkan adalah teori umum. Kemudian siswa akan mencari lebih lanjut secara khususnya. Agar melatih siswa ke pembentukan pola piker yang terbaik bagi mereka. Karena pada tahap ini anak remaja maka ia sudah bias memilih yang yang benar tanpa ada doktrinasi.
Strategi metode:
·         Demonstrasi dan Eksperimen
·         Dikusi kelompok
·         Presentasi
·         Penugasan

Multiple Intelegensi By Howard Gardner

      Konon para ahli menemukan 150 jenis kecerdasan manusia. Cukup lama orang beranggapan bahwa IQ ( intelligence quotient ) merupakan penentu kesuksesan belajar dan hidup seseorang. Seperti anggapan bahwa IQ-nya tinggi maka ia akan sukses dalam kehidupan nyata. Namun pernyataan itu tidak selalu benar. Banyak orang IQ – nya tinggi tetapi gagal dalam hidup. Maka disadari bahwa IQ meskipun tinggi namun bukan segala–galanya. Perlu disadari pula dengan penemuan SQ ( spiritual quotient) dan EQ ( emotional quotient ) maka IQ, EQ, dan SQ perlu dikembangkan secara bersamaan, agar seseorang berhasil. Prof. Dr.Howard Gardner seorang psikolog dan ahli pendidikan dari Universitas Harvard AS merumuskan teorinya Multiple Intelligences ( kecerdasan ganda / majemuk ).

      Dengan latar belakang standar kecerdasan dan kegagasan rasionalisme dimana kecerdasan ditinjau dari IQ yang tinggi, maka Garder membuat riset dengan memberi contoh bahwa orang berhasil tidak hanya mengandalkan IQ tinggi yaitu Maradona (Brasil) dan Ronaldinho (Argentina ) pemain sepak bola , Mozart dengan usia 4 th sudah mahir memainkan piano, Beethoven dan Kenny G yang sangat cerdas pula memainkan alat musik.

Prof. Dr.Howard Gardner mengemukakan 9 kecerdasan yaitu:

         Inteligensi linguistik ( Linguistic intelligence)• Kemampuan untuk menggunakan dan mengolah kata – kata secara efektif baik secara oral/lisan maupun secara tertulis. Kemampuan ini berkaitan dengan penggunaan bahasa secaa umum. Orang yang memiliki intelegensi linguistik tinggi akan berbahasa dengan lancar, baik, dan lrngkap. Ia mudah untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, mudah belajar beberapa bahasa. Orang tersebut dengan mudah mengerti urutan dan arti kata-kata dalam belajar bahasa. Mereka mudahuntuk menjelaskan, mengajarkan, dan menceritakan pemikirannya pada orang lain. contohnya pencipta puisi, editor , jurnalis, dramawan, sastrawan, orator Tokoh terkenal seperti : Sukarno, Paus Yohanes Paulus II, Winston Churhill.
    2. Inteligensi matematis-logis ( Logical – mathematical intelligence )
          Kemampuan ini berkaitan dengan penggunaan bilangan dan logika secara efektif. Orang yang memiliki intelegensi matematis-logis sangat mudah membuat klasifikasi dan kategorisasi dalam pemikiran serta cara mereka bekerja. Dalam menghadapi banyak persoalan, dia akan mencoba mengelopokkannya sehingga mudah dilihat mana yang pokok dan yang tidak, mana yang berkaitan antara satu dan lainnya, serta mana yang merupakan persoalan lepas. Maka dia tidak mudah bingung. Pemikiran orang dengan intelegensi matematis-logis adalah induktifdan dedukti, jalan pikiran bernalar dengan mudah mengembangkan pola sebab akibat.  contohnya matematikus, programer, logikus. Tokoh terkenal seperti : Einstein ( ahli fisika ), Habibie ( ahli pesawat )
    3. Inteligensi ruang-visual (Spatial intelligence )
               Kemampuan untuk menangkap dunia ruang visual secara tepat dan kemampuan untuk mengenal bentuk dan benda secara tepat serta mempunyai daya imaginasi secara tepat. Meski melihat dari jauh, ia dapat memperkirakan letak benda itu. Orang yang memiliki intelegensi ruang-visual tinggi punya persepsi yang tepat tentang suatu benda dengan ruang disekitarnya, ia dapat memandang dari berbagai sudut. Maka, ia dapat menggambarkan kedudukan ruang dengan baik. contohnya pemburu, arsitek, dekorator. Tokoh terkenal seperti Sidharta ( pemahat ), Pablo Pacasso ( pelukis )
    4. Inteligensi kinestetic-badani (bodily- kinesthetic intelligence )
    Kemampuan menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan. Orang yang memiliki intelegensi kinestik-badani dengan mudah dapat mengungkapkan diri dengan gerak tubuh mereka. Apa yang mereka pikirkan dan rasakan dengan mudah diekspresikan dengan gerak tubuh, dengan tarian dan ekspresi tubuh. Mereka juga dengan mudah dapat memainkan mimik, drama, dan peran. Mereka dengan mudah dan cepat melakukan gerak tubuh dalam olahraga dengan segala macam variasinya. Yang sangat menonjol dalam diri mereka adalah koordinasi dan fleksibilitas tubuh yang begitu besar.   contohnya aktor, atlet, penari ahli bedah. Tokoh terkenal seperti : Charlie Chaplin ( pemain pantonim yang ulung ), Steven Seagal ( actor )
    5. Inteligensi musikal ( Musical intelligence )
    Kemampuan untuk mengembangkan , mengekspresikan dan menikmati bentuk – bentuk musik dan suara, peka terhadap ritme, melodi, dan intonasi serta kemampuan memainkan alat musik, kemampuan menyanyi, kemampuan menciptakan lagu, kemampuan untuk menikmati lagu, musik dan nyanyian.
    contohnya komponis .Tokoh terkenal seperti Beethoven, Mozart.
    6. Inteligensi interpersonal ( Interpersonal intelligence )
    Kemampuan untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan , intensi, motivasi, watak, temperamen orang lain. Kepekaan akan ekspresi wajah, suara, isyarat dari orang lain juga termasuk dalam intelegensi inti. Secara umum intelegensi interpersonal berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menjalin relasi dan komunikasi dengan berbagai orang. Orang yang kuat dalam intelegensi interpersonalnya biasanya sangat mudah bekerja sama dengan orang lain, dan mudah berkomunikasi dengan orang lain. Hubungan dengan orang lain bagi mereka menyenangkan dan sepertinya keluar begitu saja secara otomatis.
    contohnya komunikator, fasilitator. Tokoh terkenal Mahatma Gandhi ( tokoh perdamaian India ), Ibu Teresa ( Pejuang kaum miskin )
    7. Inteligensi intrapersonal ( Intrapersonal intelligence )
    Kemampuan berkaitan dengan pengetahuan akan diri sendiri dan kemampuan untuk bertindak secara adaptif berdasar pengalaman diri serta mampu berefleksi dan keseimbangan diri. Orang ini punya kesadaran tinggi akan gagasan – gagasannya dan mempunyai kemampuan untuk mengambil keputusan pribadi. Ia sadar akan tujuan hidupnya, ia juga dapat mengatur perasaan dan emosinya sehingga kelihatan tetap tenang. Orang yang menonjol dalam intelegensi intrapersonal biasanya mudah berkonsentrasi dengan baik, dapat mengekspresikan perasaan-perasaan mereka yang berbeda dengan tenang, pengenalan akan diri sendiri lebih mendalamdan seimbang, orangnya kebanyakan reflektif, suka bekerja sendiri dan cenderung pendiam

    contohnya para pendoa batin dan pembimbing rohani.


    8. Inteligensi lingkungan / naturalis ( Naturalist intlligence )
    Kemampuan untuk mengerti flora dan fauna dengan baik, menikmati alam, mengenal tanaman dan binatang dengan baik. Orang yang punya intelegensi lingkungan tinggi biasanya mampu hidup diluar rumah, dapat berkawan dan berhubungan baik dengan alam, mudah membuat identifikasi dan klasifikasi tanaman dan binatang. Orang ini mempunyai kemampuan mengenal sifat dan tingkah laku binatang, biasanya mencintai lingkungan, dan tidak suka merusak lingkungan.
    Tokoh terkenal Charles Darwin (dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasikan serangga, burung, ikan, mamalia, dan mengembangkan teori evolusi.
    9. Inteligensi eksistensial ( Exixtential intlligence )
    Kemampuan menyangkut kepekaan dan kemampuan seseorang untuk menjawab persoalan – persoalan terdalam keberadaan atau eksistensi manusia. Orang tidak puas hanya menerima keberadaannya secara otomatis, tetapi mencoba menyadarinya dan mencari jawaban yang terdalam. Inte;egensi ini tampaknya sangat berkembang pada banyak filsuf, terlebih filsuf eksistensialis yang selalu mempertanyakan dan mencoba menjawab persoalan eksistensi hidup manusia.
    contohnya persoalan mengapa ada, apa makna hidup ini. Tokoh terkenal seperti Plato, Sokrates, Thomas Aquina.

Alat/Media/Bahan
·         Alat                 : pegas/karet, neraca pegas, mistar, statif
·   Bahan ajar          : buku pegangan Fisika jilid 1, Buku Fisika Penunjang Aktifitas Siswa, mechanics 1 dan 2,  dan hands out

Langkah Kegiatan/Skenario Pembelajaran
Setelah mereviu hasil pencapaian kompetensi (KD) sebelumnya, siswa mengikuti peragaan menarik pegas, mengukur panjangnya, dan membaca skala gaya neraca pegas untuk menemukan rumusan hukum Hooke, serta menentukan konstanta pegas. Selanjutnya memalui diskusi, mendefinisikan konsep stress, strain, dan modulus elastisitas; menemukan rumusan untuk susunan pegas seri dan paralel; dan memecahkan masalah elastitas dan gaya pegas. Siswa dari perwakilan dua kelompok praktik mempresesntasikan hasil percobaan dan penerapan elastisitas dalam kehidupan dan teknologi. Selama proses pembelajaran dilakuan penilaian proses pada aktivitas di kelas dan hasil tugas mandiri.
Pertemuan pertama
Rincian Kegiatan
Waktu
Pendahuluan
·      Merefleksi hasil kompetensi (KD) sebelumnya tentang gerak melingkar
·      Mejelaskan kaitan elastisitas dengan hukum Newton (KD sebelumnya) dan gerak getaran (KD yang akan datang)
·      Menyampaikan tujuan pembelajaran
·      Bertanya dan menagih secara lisan tugas baca mencari informasi tentang elastisitas melalui berbagai sumber (buku, internet, atau modul)
·      Melaksanakan pretes tentang karakteristik benda elastis
20 menit
Kegiatan Inti
·      Siswa dibagi dalam kelompok kecil, masing-masing terdiri atas 4 orang
·      Siswa dalam kelompok diminta untuk menarik dua karet berbeda jenis, kemudian membandingkan kekuatannya, mana yang lebih kuat
·      Siswa Mencermati demonstrasi percobaan. Perwakilan kelompok mencatat hasil bacaan panjang pegas/karet awal, pertambahan panjang, dan skala neraca pegas. Kemudian menyimpulkan hubungan antara pperubahan panjang dengan besar gaya (skala neraca pegas). Kegiat
100 menit
Penutup
·         Bersama siswa menyimpulkan karakteristik benda elastis dan hukum Hooke
·         Memberikan tugas baca tentang modulus elastisitas dan susunan pegas
·         Melaksanakan postes
15 menit


Penilaian
1.      Mekanisme dan prosedur
Penilaian dilakukan dari proses dan hasil. Penilaian proses dilakukan melalui observasi kerja kelompok, kinerja presentasi, dan laporan tertulis. Sedangkan penilaian hasil dilakukan melalui tes tertulis.
2.      Aspek dan Instrumen penilaian
Instrumen observasi menggunakan lembar pengamatan dengan fokus utama pada aktivitas dalam kelompok, kedisiplinan, dan kerjasama.
Instrumen kinerja presentasi menggunakan lembar pengamatan dengan fokus utama pada aktivitas peran serta, kualitas visual presentasi, dan isi presentasi
Instrumen laporan praktik menggunakan rubrik penilaian dengan fokus utama pada kualitas visual, sistematika sajian data, kejujuran, dan jawaban pertanyaan.
Instrumen tes menggunakan tes tertulis uraian dan/atau pilihan ganda
3.      Contoh Instrumen (Terlampir)

Sumber/Referensi
Buku Pegangan Kurikulum 2013
Fisika Jilid 1


Lampiran
a.       Lembar Observasi dan kinerja presentasi
LEMBAR PENGAMATAN OBSERVASI
DAN KINERJA PRESENTASI
Mata Pelajaran      : Fisika
Kelas/Program       : X/M-IPA
Kompetensi           : KD 3.6 dan 4.6
No
Nama Siswa
Observasi
Kinerja Presentasi
Jml
Skor
NilaI
Akt
Disl
Kerjsm
Prnsrt
Visual
Isi
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
1.       

4
4
3
4
3
3
21

2.       









3.       









4.       









5.       









6.       









7.       









8.       









9.       












































































































































Contoh Tes Uraian
1.      A sign (m = 200 kg) hangs from the end of vertical steel girder with cross-sectional area of 0.5 cm2 and 50 cm of length. The additional of length is 2.5 cm in this situation
a.       What is the strain and stress on the girder?
b.      Calculate the modulus Young!
2.      Perhatikan data percobaan berikut
Perhatikan data percobaan tentang pegas yang diberi beban (g = 10 m.s-2).
Exp
Mass (gram)
Panjang pegas (cm)
1)       
50
32.0
2)       
100
34.5
3)       
250
42.0
4)       
x
45.0
a.   Berapa konstanta pegas (k)!
b.   Perkirakan nila x pada percobaan ke 4!
3.      Sebuah pegas mula-mula panjangnya 27,0 cm. Ketika diberi beban 100 gram panjang pegas menjadi 29,5 cm. Berapa panjang pegas jika masa beban yang digantungkan 170 gram?

Lembar Kerja Praktik
1.      Timbang seluruh masa beban gantung kombinasi berikut dengan pengaitnya (Mo)
2.      Susun alat seperti gambar
3.      Baca skala yang ditunjukan mistar pada bagian bawah beban pada posisi awal (Lo)
4.      Ambil satu beban dan catat masanya (m), kemudian baca skala pada mistar (L)
5.      Lakukan percobaan dengan terus menerus mengambil masa beban. Lakukan pengukuran dengan cermat dan teliti. Kemudian masukan data percobaan ke dalam tabel berikut ini
Data Percobaan
Mo = ................ kilogram
Lo = .................meter
Perc Ke
Total masa yang diambil
(m)
Bacaan Mistar
(L)
1.       


2.       


3.       


4.       


5.       


6.       


7.       



6.      Buatlah grafik dengan m sebagai sumbu x dan L sebagai sumbu y

7.      Jawablah pertanyaan berikut ini
a.       Tuliskan persamaan grafik yang terbentuk
b.      Hitung gradiennya
c.       Amati data percobaan, kemudian hitung besar konstanta pegas (k)
d.      Tentukan titik potong sumbu X (Xo) dan titik potong sumbu Y (Yo)
e.       Jika sebuah tetapan Q = grad x k, hitunglah nilai tetapan Q!
Catatan:
Kontrol ketelitian dan kejujuran data adalah: grafik berbentuk turun, gradien negatif dan nilai Q mendekati nilai percepatan gravitasi.
8.      Buatlah laporan praktik dengan struktur seperti berikut.
Struktur laporan adalah sebagai berikut
a.       Judul
b.      Tujuan
c.       Landasan teori
d.      Alat dan bahan (sertakan dengan gambar atau foto)
e.       Langkah kerja
f.       Data percobaan
g.      Jawaban pertanyaan
h.      Kesimpulan
i.        Referensi

Disini guru memberikan solusi untuk mengatasi kejenuhan dalam belajar dengan mengajaknya bermain berkelompok
Badai Berhembus (The Great Wind Blows
Strategi ini merupakan icebreaker yang dibuat cepat yang membuat para peserta latihan bergerak tertawa. Strategi tersebut merupakan cara membangun team yang baik dan menjadikan para peserta lebih mengenal satu sama lain.
Langkah-langkah :
·         Aturlah kursi –kursi ke dalam sebuah lingkaran. Mintalah peserta untuk duduk di kursi yang telah disediakan.
·         Jelaskan kepada peserta aturan permainan, untuk putaran pertama pemandu akan bertindak sebagai angin.
·         Pemandu sebagai angin akan mengatakan ‘ angin berhembus kepada yang memakai – misal : kacamata’ (apabila ada beberapa peserta memakai kacamata).
·         Peserta yang memakai kacamata harus berpindah tempat duduk, pemadu sebagai angin ikut berebut kursi.
·         Akan ada satu orang peserta yang tadi berebut kursi, tidak kebagian tempat duduk. Orang inilah yang menggantikan pemandu sebagai angin.
·         Lakukan putaran kedua, dan seterusnya. Setiap putaran yang bertindak sebagai angin harus mengatakan ‘angin berhembus kepada yang …………. (sesuai dengan karakteristik peserta, misal : baju biru, sepatu hitam, dsb)
============================
2. Lempar spidol
Permainan ini bertujuan untuk menghangatkan suasana dan menghilangkan kekakuan antar peserta dan pemandu dan antar peserta sendiri . Pelajaran yang bisa dipetik dari permainan ini adalah perlunya sikap hati–hati dan cepat tanggap.
Langkah–langkah :
·         Mintalah semua peserta berdiri bebas di depan tempat duduk masing-masing.
·         Minta peserta bertepuk tangan ketika Anda melemparkan spidol ke udara, dan pada saat spidol Anda tangkap lagi dengan tangan, semua peserta serta merta diminta berhenti bertepuk tangan. Ulangi sampai beberapa kali.
·         Ulangi proses ke-2 dengan tambahan selain bertepuk tangan juga bersenandung. ( bergumam ) : “Mmmmm….!”.
·         Ulangi proses ke–3 ini beberapa kali, dan setiap kali semakin cepat gerakannya, kemudian akhiri dengan satu anti klimaks: spidol Anda tidak dilambungkan, tapi hanya melambungkan tangan seperti akan melambungkannya ke atas (gerak tipu yang cepat !). amati : apakah peserta masih bertepuk tangan dan bergumam atau tidak ?
·         Mintalah tanggapan dan kesan, lalu diskusikan dan analisa bersama kemudian simpulkan.
============================
3. Sepatu Lapangan :
Permainan ini bermanfaat untuk mendorong proses kerjasama Tim, bahwa dalam sebuah Tim setiap orang akan belajar mendengar pendapat orang lain dan merekam masing-masing pendapat secara cermat dalam pikirannya, sebelum memutuskan pendapat apa yang terbaik menurut kelompok.
Langkah – langkah :
·         Bagilah peserta ke dalam kelompok – kelompok kecil ( 5 – 6 orang ), 1 orang akan menjadi pembicara kelompok.
·         Mintalah setiap kelompok untuk mendiskusikan tentang sepatu lapangan apa yang cocok untuk bekerja di ‘lapangan’ dan peralatan apa lagi yang dibutuhkan (waktunya sekitar 5 menit)
·         Mintalah pembicara kelompok untuk mengingat pendapat yang berbeda dan pendapat yang sama dari setiap orang di kelompoknya masing-masing.
·         Mintalah pembicara kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi ini seklaigus memperkenalkan nama anggota kelompoknya dan apa pendapat orang – orang tersebut mengenai topik diskusi di atas.
·         Setelah semua kelompok selesai, kemudian diskusikan : Apakah pembicara telah menyampaikan pendapat semua anggota kelompoknya secara tepat ? Apa yang dikurangi? Apa yang ditambah ? Apa yang tidak tepat.
============================
4. Kompak
Permainan ini bermanfaat untuk menghangatkan suasana dan membentuk suasana kerja dalam Tim.
Langkah–langkah :
·         Jelaskan kepada peserta aturan permainan ini
·         Bagilah peserta ke dalam 5 – 6 kelompok, yang penting satu kelompok terdiri dari 6 orang.
·         Mintalah masing – masing kelompok untuk membuat lingkaran dan satu orang anggota dari masing-masing kelompok untuk berdiri di tengah – tengah kelompoknya.
·         Katakana bahwa permainan ini untuk mnguji kita , apakah di antara teman-teman dalam kelompok itu saling percaya kepada TIM KERJA KITA. Yang berdiri di tengah harus menutup matanya, dengan ditutup kain, kemudian menjatuhkan diri secara bebas kea rah mana saja.
·         Sementara itu teman-teman dalam kelompoknya melingkar dan harus bertanggungjawab atas keselamatan teman yang di tengah tadi, karena permainan ini bisa – bisa akan memakan korban, maka jika yang di tenagh menjatuhkan diri kepadanya dia harus siap dan bertanggungjawab untuk menahan dan melemparkannya kepada teman yang lain. Begitu seterusnya, dan minta siapa yang di tengah bisa bicara dengan cara bergiliran .
============================
5. Bercermin
Langkah–langkah :
·         Minta setiap peserta untuk berpasangan, 1 orang menjadi bayangan di cermin dan 1 orang menjadi seseorang yang sedang berdandan di depan cermin.
·         Bayangan harus mengikuti gerak – gerik orang yang berdandan.
·         Keduanya harus bekerja sama agar bisa bergerak secara kompak dengan kecepatan yang sama.
·         Minta peserta untuk mendiskusikan apa pesan dalam permainan inI.
Daftar Pustaka
Azwar, saifuddin. 1998.  Sikap Manusia: Teori Dan Pengukurannya Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Jalaludin. 1996. Psikologi agama Jakarta: PT. Grafindo Persada
Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan Yogyakarta : UNY Press
Suparno, Paul. 2000. Teori Perkembangan Kognitif. Yogyakarta: PT. Kanisius.
Roymond, Ns. 2008. Buku Ajar Kependidikan Dalam Keperawatan Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Zimmer, Ratih. 2009. Mengoptimalkan IQ & EQ Anak Melalui Sensomotorik. Jakarta: Penerbit Libri.
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar