Minggu, 29 Juni 2014




CONTOH REVISI RPP DENGAN TEORI DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN
TEORI KOGNITIVITAS
BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Pada hakikatnya pendidikan merupakan sarana mendasar upaya manusia untuk memproleh kelangsungan hidupnya, dan secara instrumental pendidikan merupakan satu infrastruktur untuk pengembangan sumber daya manusia dan pelestarian budaya dalam proses alih generasi secara berkesinambungan. Berdasarkan Undang-Undang No. 2 tahun 1998 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan mempunyai pengertian sebagai:”…usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, untuk peranannya dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang” (pasal 1 ayat 1) (Surya: 2004).
Dalam paparan diatas bahwa pendidikan dijalankan melalui kegiatan bimbingan dan pengajaran. Dengan kata lain, pendidikan membutuhkan ilmu-ilmu yang lain untuk mewujudkannya agar lebih efisien dan efektif dengan tidak menghilangkan dasar tujuannya.
Psikologi pendidikan ilmu yang mempelajari pelajaratau siswa, belajar, dan mengajar.Prinsip-prinsip ini memusatkan perhatian, dimana informasi, keterampilan, nilai, dan sikap diteruskan dari guru ke siswa di kelas.Salah satu objek kajian psikologi pendidikan adalah membahas tentang teori belajar.
Belajar adalah segenap rangkaian kegiatan atau aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa peningkatan pengetahuan atau kemahiran berdasarkan alat indra dan pengalamannya. Factor-faktor yang memengaruhi belajar:
1.             Faktor internal (faktor di dalam diri peserta didik), yaitu kondisi jasmani dan rohani peserta didik.
2.             Faktor eksternal (faktor di luar peserta didik), yaitu kondisi lingkungan di sekitar peserta didik.
3.             Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yaitu jenis upaya belajar peserta didik yang meliputi strategi dan metode yang digunakan peserta didik untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi ajar.
Faktor 1 dan 2 sudah menjadi keputusan absolut bagi para ilmuwan psikolog hanya saja persentase besar pengaruh terhadap peserta didik yang menjadi perdebatan.Sedangkan faktor ketiga yang terus-menerus dikaji oleh para ilmuwan.Karena terdapat komponen-komponen utama dalam pelaksanaan pembelajaran.Pendekatan belajar yang meliputi strategi, metode, implikasi pembelajaran di dalamnya merupakan hal-hal yang dikemukakan dalam teori belajar yang sangat diprioritaskan pada guru maupun calon guru untuk mengetahui, memahami, dan mengaplikasikannya dalam kegiatan belajar.
Para ilmuwan yang mempertahanakan teori-teori belajar yang telah dikemukakan masing-masing oleh mereka sehingga membuat perbedaan metode pembelajaran di setiap Negara.terdapat beberapa teori belajar yang telah dihasilkan di antaranya: (i) teori belajar behaviorisme (ii) teori belajar konstruksivisme (iii) teori belajar kognitivisme (iv) teori belajar humanistik. Aspek penilaian apa yang kurang dari teori lain sehingga memilih kognitivisme?
Dalam blog ini hal yang dibahas hanya teori kognitivisme yang akan diimplikasikan dalam RPP. Dalam kognitivisme hal diperhatikan adalah proses belajar bukan hasil dari belajar seperti behaviorisme yang terdiri atas stimulus dan respon. Hal ini memberikan ruang bagi pserta didik untuk bisa mengkonsepkan dirinya dan mengembangkan kognitifnya yang berimbas pada prilaku siswa.Penulisan blog ini akan menyatukan teori kognitivitas kedalam perancangan RPP yang akan direvisi. Penulis berharap semoga tulisan blog ini bermanfaat bagi pembaca dan membantu bagi para calon guru.
B.       Tujuan Penulisan
1.             Mampu menghubungkan teori dengan implikasinya. (C5)
2.             Mampu menyatakan pendapat tentang penilaian metode kognitivisme secara kualitatif. (A3)
3.             Mampu mengoperasikan metode kognitivisme dalam pembelajaran. (P4)
BAB II
PEMBAHASAN

A.      Prinsip Dasar Teori Kognitivisme
Prinsip teori psikologi kognitif adalah bahwa setiap orang dalam bertingkah laku dan mengerjakan segala sesuatu  senantiasa dipengaruhi oleh tingkat-tingkat perkembangan dan pemahaman atas dirinya sendiri. Seseorang memiliki kepercayaan, ide-ide, dan prinsip yang dipilih untuk kepentingan dirinya sendiri.
Teori belajar kognitif ini sangat erat hubungannya dengan teori psikologi kognitif. Aspek kognitifnya mempersoalkan masalah bagaimana orang memperoleh pemahaman mengenai diri sendiri dan lingkungannya, dan bagaimana mereka berhubungan dengan lingkungan mereka dengan menggunakan kesadarannya, sedangkan aspek psikologisnya menekankan  pada hubungan antara orang dengan lingkungan psikologinya secara bersamaan dan saling berhubungan secara timbal balik. Dalam hal belajar, aspek psikologis ini memandang bahwa proses belajar yang terjadi pada seseorang tidak tampak dari luar dan sifatnya kompleks. Karena prilaku belajar seseorang tidak dipengaruhi oleh faktor dari luar (eksternal), melainkan dipengaruhi oleh cara-cara bagaimana terjadinya proses informasi di dalam diri seseorang (faktor internal).
Psikologi kognitif lebih menekankannarti penting proses internal atau proses-proses mental manusia daripada tampakan luarnya. Tingkah laku yang tampak tidak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental, seperti motivasi, kesengajaan, keyakinan, dan sebagainya. Sehubungan dengan belajar, teori kognitif memandang bahwa belajar merupakan proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung. Adapun perubahan tingkah laku yang tampak sesungguhnya adalah refleksi dari perubahan, interaksi persepsi dirinya terhadap sesuatu yang diamati dan dipikirkan.
Prinsip psikologi kognitif pembelajaran adalah:
1.      Dasar proses pembelajaran. Pembelajaran adalah suatu proses alamiah untuk mencapai tujuan yang bermakna secara pribadi, bersifat aktif, dan melalui mediasi secara internal, merupakan proses pencarian dan pembentukan makna terhadap informasi dan pengalaman yang disaring melalui persepsi unik, pemikiran, dan perasaan siswa.
2.      Tujuan proses pembelajaran. Siswa mencari untuk menciptakan makna, representasi pengetahuan melalui kuantitas dan kualitas data yang tersedia.
3.      Pembentukan pengetahuan. Siswa mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya yang telah dimiliki melalui cara-cara yang unik dan penuh makna.
4.      Pemikiran tingkat tinggi. Strategi tingkat tinggi untuk “berpikir tentang berpikir” untuk memantau dan memonitor proses mental, memfasilitasi kreativitas-kreativitas dan berpikir kritis.
B.       Tokoh-tokoh Kognitivisme
1.    Teori belajar cognitive Field Lewin
Kurt Lewin (September 9, 1890 – February 12, 1947) merupakan psikolog German-Amerika.
Teori belajar cognitive Field Lewin menitikberatkan perhatian pada kepribadian psikologi sosial karena pada hakikatnya masing-masing individu berada di dalam suatu medan kekuatan, yang bersifat psikologi. Medan kekuatan psikologis dimana individu bereaksi disebut live space.Live space mencakup perwujudan ligkungan dimana individu, misalnya orang yang dijumpai, fungsi kejiwaan yang dimiliki dan objek material yang dihadapi.
Jadi, tingkah laku merupakan hasil interaksi antar kekuatan, baik yang berasal dari dalam diri individu, seperti tujuan, kebutuhan, tekanan kejiwaan, maupun yang berasal dari luar diri individu, seperti tantangan  dan permasalahan yang dihadapi. Menurut teori ini, belajar itu berlangsung sebagai akibat dari perubahan dalam struktur kognitif.
Perubahan struktur kognitif itu adalah hasil pertemuan dari dua kekuatan, yaitu yang berasal dari struktur medan kognitif itu sendiri dan yang lainnya berasal dari kebutuhan dan motivasi internal individu. Dengan demikian, peranan motivasi jauh lebih penting daripada reward atau hadiah. 1 (Prof. Dr. H. Djaali, psikologi pendidikan (Jakarta : PT bumi Aksara , 2006) hal. 75
2.      Teori belajar cognitive development Piaget
Jean Piaget adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan psikolog perkembangan Swiss, yang terkenal karena hasil penelitiannya tentang anak-anak dan teori perkembangan kognitifnya.
Lahir                : 9 Agustus 1896, Neuchâtel, Swiss
Pendidikan      : University of Neuchâtel (1918), Universitas Zürich
Dalam teori ini, Piaget memandang bahwa proses berfikir merupakan aktivitas gradual dari fungsi intelektual, yaitu dari berfikir kongkrit menuju abstrak. Berarti terhadap objek yang dipelajari.Halini perlu dibiasakan sejak individu atau siswa masih kecil. Berarti perkembangan kapasitas  mental memberikan kemampuan baru yang sebelumnya tidak ada.
PROSES KOGNITIF PIAGET
Skema                          : kerangka kognitif / kerangka referensi
Asimilasi                      : proses memasukkan pengetahuan baru ke dalampengetahuan yg sudah ada
Akomodasi                  : menyesuaikan diri dengan infomasi yang baru
Organisasi                    : mengelompokkan perilaku/ konsep kedalam kelompok-kelompok yang terpisah ke dalm sistem kognitif yang lebih tertib,lancar; dengan menggunakan kategori-kategori meningkatkan LTM
Ekulibirasi                   : bergerak dari satu tahap ke tahap yang lainrawankonflik dalam usahanya memahami unia (dsekulibium). Jika berhasilakan mendapatkan keseimbangan pemikiran.
Perkembangan intelektual adalah kualitatif, bukan kuantitatif. Intelegensi itu terdiri atas tiga aspek:
1.         Struktur atau  scheme ialah pola tingkah laku yang dapat diulang.
2.         Isi atau konten ialah pola tingkah laku spesifik, ketika seseorang menghadapi suatu masalah.
3.         Fungsi atau function adalah yang berhubungan dengan cara seseorang mencapai kemajuan intelektual. Fungtion terdiri atas dua macam fungsi infarian yaitu organisasi dan adaptasi.
Organisasi berupa kecakapan seseorang dalam menyusun proses fisik dan psikis dalam bentuk sistem yang koheren, sedangkan adpatasi adalah kemampuan seseorang dalam menyesuaikan diri denganlingkungan. Adaptasi terdiri atas dua macam proses komplementer, yaitu asimilasi  dan akomodasi. Asimilasi adalah proses penggunaan struktur atau kemampuan individu untuk menghadapi masalah dalam lingkungannya.  Sedangkan akomodasi ialah proses perubahan respon individu terhadap stimulasi.
Jadi,  perkembangan kognitif tergantung pada akomodasi. Oleh karena itu,  siswa harus diberikan suatu areal yang belum diketahui, agar dia dapat belajar. Dengan adanya area baru ini siswa akan mengadakan usaha-usaha untuk dapat pengkomodasi. Situasi atau area itulah yang akan mempermudah perkembangan kognitif. 2 (ibid h. 76)
3.         Discovery Learning Bruner
Jerome Seymour Bruner (lahir Oktober 1, 1915) merupakan psikolog yang memberikan kontribusi besar terhadap psikologi kognitif manusia dan teori pembelajaran kognitif pada bidang psikologi pendidikan.
Menurut Brune dalam buku Sugihartono dkk. (2007:11), belajar merupakan proses yang bersifat aktif. Artinya cara terbaik seseorang untuk memulai belajar konsep dan prinsip-prinsip tertentu adalah dengan mengonstruksi sendiri konsep dan prinsip yang dipelajari, yaitu dengan cara siswa berinteraksi secara langsung dengan lingkungannya untuk melakukan eksplorasi, manipulasi, membuat pertanyaan, dan melakukan eksperimen terhadap objek yang dipelajari.
Yang menjadikan dasar ide J. Burner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperanan secara aktif di dalam belajar di kelas. Untuk itu Bruner memakai cara dengan apa yang disebut Discovery Learning, yaitu dimana murid mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir prosedur ini berbeda dengan Reseption Learning atau Expository Teaching, dimana guru menerangkan semua informasi dan murid harus mempelajari semua bahan atau informasi itu.
Banyak pendapat yang mendukung discovery leanring itu, diantaranya J. Dewy (1993) dengan complete art of activity atau terkenal dengan problem solving.Ide Bruneritu ditulis dalam bukunya process of education. Di dalambuku itu ia melaporkan hasil dari suatu konferensi diantara para ahli sains, ahli sekolah atau pengajaran dan pendidik tenang pengajaran sains. Ia mengemukakan pendapatnya bahwa mata pelajaran dapat diajarkan secara efektif dalam bentuk intelektual yang sesuai dengan tingkat perkembanganpada tingkat permulaan pengajaran hendaknya dapat diberikan melalui cara-cara yang bermakna dan makin meningkat dengan cara yang abstrak.
Bruner mendapatkan pertanyaan, bagaimana kitadapat mengembangkan program pengajaran yang lebih efektif bagi anak muda? Jawaban Brunner ialah dengan mengkoordinasikan metode penyajian bahan dengan cara dimana anak dapat mempelajari bahan itu, yang sesuai dengan tingkat kemajuan anak. Tingkat-tingakat kemajuan dari tingkat representasi sensori (enactive) ke representasi konkret (iconic) dan akhirnya ke tingkat reprensentasi yang abstrak (symbolic) pernyataan lain dalam proccess of education ialah tentang bagaimana mata pelajaran itu harus diajarkan. Kurikulum dari suatu mata pelajaran harus ditentukan oleh pengertian yang sangat fundamental bahwa hal itu dapat dicapai berdasarkan prinsip- prinsip yang memberikan struktur bagi mata pelajaran itu.Maka di dalam mengajar harus dapat diberikan kepada murid struktur dari mata pelajaran itu.Murid harus mempelajari prinsip-prinsip itu sehingga terbentuklah suatu disiplin itu. Bruner menyebutkan hendaknya guru harus memberikan kesempatan kepada muridnya untuk menjadi seorang problem solver, seorang saintis historis,  atau ahli matematika. Biarkanlah murid- murid kita menemukan arti bagi diri mereka sendiri, dan memungkinkan mereka untuk mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa yang dimengerti mereka.
The art of discovery dari Brunner:
a.         Adanya suatu kenaikan berkala di dalam potensi intelektual.
b.         Ganjaran intrinsik lebih ditekankan daripada ekstrinsik.
c.         Murid yang mempelajari bagaimana menemukan berarti murid itu menguasai metode discovery learning.
d.        Murid lebih sering mengingat-ingat informasi.
Teorinya yang merupakan adaptasi dan pengembangan dari teori tahapan perkembangan kognitif Piaget mempertajam dan memperkaya konsep pendidikan untuk anak-anak terutama pendidikan anak usia dini. Menurut Brunner dalam Sugihartono dkk. (2007: 112), proses belajar lebih ditentukan oleh bagaimana cara siswa mengatur dan mengolah materi pelajaran bukan ditentukan oleh umur.
Teori belajar Brunner tersebut memunculkan aplikasi dalam dunia pendidikan dalam bentuk discovery learning dan kurikulum spiral. Menurut Brunner dalam Asri Budinningsih (2005: 42), perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan cara menyusun materi pelajaran dan menyajikannya sesuai dengan tahap perkembangan individu tersebut.Hal ini disebabkan teori ini menuntut adanya pengulangan-pengulangan untuk memperkuat asimilasi dan akomodasi pengetahuan baru. Dengan demikian, tujuan penddikan menurut Brunner dala Sugiono dan Hariyanto (2011: 89) adalah guru memerankan diri sebagai pemandu bagi siswanya sehingga para siswa dapat membangun pengetahuannya sendiri secara aktif bukan karenaproses hafalan. Discovery learning merupakan konsep dasar teori belajar yang dikemukakan oleh Brunner.
Asri budinningsih belajar dan pembelajaran 2005 jakarta rineka cipta
BAB III
ANALISIS TEORI
Penjelasan bahwa proses lebih penting bisa dianalogikan seperti ini:
Ketika hari ujian siswa A, siswa B, siswa C, melaksanakan ujian mata pelajaran yang sama dalam kelas yang sama. Guru sudah memberitahukan sejak tiga hari yang lalu. Siswa A segera belajar setelah guru memberitahukan informasi itu. Dalam proses belajarnya siswa A membutuhkan waktu dua hari untuk menghafal sedangkan siswa B pada malam hari sebelum ujian ia baru membuka buku peajaran yang akan diujkan. Lain halnya siswa C yang bersantai-santai pada waktu menjelang ujian.Waktu ujian terlaksanakan semua siswa mengerjakan berbarengan.Siswa C melihat hasil kerjaan temannya kemudian menyalin pada lembar jawabannya.Pada waktu pembagian hasil ujian siswa C mendapatkan nilai tertinggi diikuti dengan nilai siswa B kemudian siswa A.
Jika kita melihat hasil, mungkin kita akan berkata bahwa siswa C merupakan yang paling pintar di antara semua siswa. Kemudian siswa A yang paling terendah di antara mereka. Namun dalam tinjauan proses bahwa siswa B yang paling pintar karena kemampuan kognitifnya yang cepat memahami pelajaran dalam waktu singkat dengan hasil yang baik. Ternyata siswa B menggunakan pemahaman dalam belajarnya sehingga ia tidak lupa ketika menjawab ujian karena pemahamannya ia mampu mengaitkan materi pelajaran itu dengan kehidupannya. Pada siswa A ia mengalami lupa dalam hafalannya ketika menjawab soal ujian.
Dari proses juga kita bisa meninjau dari hasil psikomotorik atau prilaku mereka. Jika dilihat dari aspek psikomotorik maka siswa C merupakan siswa yang paling bodoh. Karena ia tidak melakukan apa-apa dalam menjawab ujiannya. Ia melakukan copy-paste terhadap jawabannya yang mungkin jika ditanya setelah ujian “apa jawabanmu?” mungkin ia akan bilang “aku pun tidak paham soalnya”. Lalu apakah siswa C sudah disebut belajar? Belum, bahkan seharusnya ia harus mengulang pelajaran tersebut karena pelajaran yang ia terima belum mengintegrasi perkembangan kognitif dalam pikirannya. Disini proses sangat penting daripada sekedar hasil belajar.
Apakah guru harus menghukum siswa C?Menurut Piaget seorang siswa harus diberikan suatu areal yang belum diketahui, agar dia dapat belajar. Seorang guru tidak harus mengeluarkan siswanya dari sekolah ketika ia ditemukan melakukan hal-hal yang negative. Karena itu hanya membuat siswa melakukan hal yang sama pada tempat lain. Seorang guru harus memberikan tindakan dimana mengajaknya dan membimbingnya untuk berpikir, sehingga siswa C mendapat pemahaman apa yang dilakukannya tidak baik sehingga ia tidak akan mengulanginya lagi seumur hidupnya. Ketika siswa tidak pernah mengulangi kesalahan itu lagi maka siswa C sudah melakukan belajar untuk tidak pernah mencontek lagi.
Apa yang harus dilakukan pada siswa A dan siswa B. Dalam teori yang dikemukakan oleh Field Lewin bahwa menurutnya peranan motivasi jauh lebih penting daripada reward atau hadiah. Tentunya motivasi berguna untuk membangun diri mereka agar melakukan hal yang lebih baik daripada yang ia kerjakan sekarang. Sehingga kognitif mereka akan terus berkembang yang direfleksikan pada tingkah laku mereka yang jujur.
 Implikasi teori kognitif bisa diterapkan ketika memahami proses alam yang terjadi dari ayat Quran di bawah ini:
Artinya:
“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (7: 57)

 Ayat ini merupakan sebuah seruan yang jelas untuk melihat, menganalisis, dan mengkaji secara ilmiah tentang semua makhluk, dan tentang semua fenomena kosmologi.Ketika orang yang berpikir membaca ayat ini maka ia akan merenung memperhatikan turunnya hujan. Timbul perasaan keinginantahuan “mengapa hal ini bisa terjadi?” ia pun akan mencari tahu penyebab turunnya hujan  melewati media pembelajaran seperti internet dll ataupun bertanya langsung pada guru pelajaran IPA. Ketika ia diberi penjelasan mengenai turunnya hujan yang diakibatkan oleh penguapan ia memahaminya dengan cara membayangkan secara abstrak ataupun dengan menganalogikannya pada kejadian sehari-hari. Setelah ia semakin paham maka akan timbul suatu inovasi “apakah hujan bisa dibuat?”.  Ketika ia mendapat informasi bahwa garam bisa menggabungkan butir-butir atmosfer di awan, ketika ia mencobanya yang dihasilkan ternyata hujan bisa dipercepat turunnya bukan dibuat. Kemudian mengevaluasinya apakah bisa menimbulkan dampak negatif?Ketika berevaluasi dan sudah melakukan inovasi terhadap pemahaman pertamanya, proses berpikir ini sudah mencapai ranah tertinggi dalam domain cognitive Bloom.
Disini murid sudah menguasai discovery learning yang dikemukakan Brunner dengan uraian berikut:
The art of discovery dari Brunner:
1.         Adanya suatu kenaikan berkala di dalam potensi intelektual.
2.         Ganjaran intrinsik lebih ditekankan daripada ekstrinsik.
3.         Murid yang mempelajari bagaimana menemukan berarti murid itu menguasai metode discovery learning.
4.         Murid lebih sering mengingat-ingat informasi
Ketika ia berpikir lebih lanjut dengan perasaan takjub pada ciptaan Allah SWT. Hal ini akan memberikan suasana hati yang beda pada dirinya sehingga ia pun akan mengingat ilmu yang ia dapatkan dari proses turunnya hujan. Kejadian yang menggugah emosional kemudian yang memunculkan ide atau konsep akan memunculkan long term memory pada pikirannya.
Hal ini bisa berimbas pada tingkah laku atau psikomotornya dimana ia akan berbuat baik seperti orang beriman seiring bertambah iman dalam hatinya seiring dengan pemahaman kognitif dari ayat kauniyah di atas.
Hal ini yang diharapkan Field Lewin dimana kognitif mempengaruhi tingkah laku secara sadar maupun tak sadar.
Secara ringkas teori yang dikemukakan para tokoh adalah sama namun yang berbeda hanya kefokusan mereka dalam memberikan proses belajar kemudian aspek yang dinilainya.
Perbandingan teori para tokoh:
1.                  Field Lewin menitikberatkan pada tindakan atau prilaku secara sadar dan tidak sadar terhadap lingkungan menurutnya itu terpengaruh dari perkembangan kognitif.
2.                  Piaget siswa diberikan area lingkungan baru untuk membanntu perkembangan kognitifnya. Karena berlajar adalah proses perubahan tingkah laku akibat dari gradual intelektual.
3.                  Discovery Learning Bruner hipotesa proses belajar tingkat ia mendapatkan pemahaman tidak ditentukan oleh umur,mengembangkan teori-teori Piaget, discovery learningmengarahkan guru menjadi pemandusiswa untuk membentuk pemahamannya sendiri.
 


Daftar Pustaka
Azwar, saifuddin. 1998.  Sikap Manusia: Teori Dan Pengukurannya Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Jalaludin. 1996. Psikologi agama Jakarta: PT. Grafindo Persada
Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan Yogyakarta : UNY Press
Suparno, Paul. 2000. Teori Perkembangan Kognitif. Yogyakarta: PT. Kanisius.
Roymond, Ns. 2008. Buku Ajar Kependidikan Dalam Keperawatan Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Zimmer, Ratih. 2009. Mengoptimalkan IQ & EQ Anak Melalui Sensomotorik. Jakarta: Penerbit Libri.