CONTOH REVISI RPP DENGAN TEORI DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN
TEORI KOGNITIVITAS
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada
hakikatnya pendidikan merupakan sarana mendasar upaya manusia untuk memproleh
kelangsungan hidupnya, dan secara instrumental pendidikan merupakan satu
infrastruktur untuk pengembangan sumber daya manusia dan pelestarian budaya
dalam proses alih generasi secara berkesinambungan. Berdasarkan Undang-Undang
No. 2 tahun 1998 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan mempunyai
pengertian sebagai:”…usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui
kegiatan bimbingan, pengajaran, untuk peranannya dan/atau latihan bagi peranannya
di masa yang akan datang” (pasal 1 ayat 1) (Surya: 2004).
Dalam
paparan diatas bahwa pendidikan dijalankan melalui kegiatan bimbingan dan
pengajaran. Dengan kata lain, pendidikan membutuhkan ilmu-ilmu yang lain untuk
mewujudkannya agar lebih efisien dan efektif dengan tidak menghilangkan dasar
tujuannya.
Psikologi
pendidikan ilmu yang mempelajari pelajaratau siswa, belajar, dan
mengajar.Prinsip-prinsip ini memusatkan perhatian, dimana informasi,
keterampilan, nilai, dan sikap diteruskan dari guru ke siswa di kelas.Salah
satu objek kajian psikologi pendidikan adalah membahas tentang teori belajar.
Belajar
adalah segenap rangkaian kegiatan atau aktivitas yang dilakukan secara sadar
oleh seseorang dan mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa peningkatan
pengetahuan atau kemahiran berdasarkan alat indra dan pengalamannya.
Factor-faktor yang memengaruhi belajar:
1.
Faktor internal
(faktor di dalam diri peserta didik), yaitu kondisi jasmani dan rohani peserta
didik.
2.
Faktor eksternal
(faktor di luar peserta didik), yaitu kondisi lingkungan di sekitar peserta
didik.
3.
Faktor
pendekatan belajar (approach to learning), yaitu jenis upaya belajar peserta
didik yang meliputi strategi dan metode yang digunakan peserta didik untuk
melakukan kegiatan pembelajaran materi ajar.
Faktor 1 dan 2 sudah menjadi keputusan
absolut bagi para ilmuwan psikolog hanya saja persentase besar pengaruh
terhadap peserta didik yang menjadi perdebatan.Sedangkan faktor ketiga yang
terus-menerus dikaji oleh para ilmuwan.Karena terdapat komponen-komponen utama
dalam pelaksanaan pembelajaran.Pendekatan belajar yang meliputi strategi,
metode, implikasi pembelajaran di dalamnya merupakan hal-hal yang dikemukakan
dalam teori belajar yang sangat diprioritaskan pada guru maupun calon guru
untuk mengetahui, memahami, dan mengaplikasikannya dalam kegiatan belajar.
Para ilmuwan yang mempertahanakan
teori-teori belajar yang telah dikemukakan masing-masing oleh mereka sehingga membuat
perbedaan metode pembelajaran di setiap Negara.terdapat beberapa teori belajar
yang telah dihasilkan di antaranya: (i) teori belajar behaviorisme (ii) teori
belajar konstruksivisme (iii) teori belajar kognitivisme (iv) teori belajar humanistik.
Aspek penilaian apa yang kurang dari teori lain sehingga memilih kognitivisme?
Dalam blog ini hal yang dibahas hanya
teori kognitivisme yang akan diimplikasikan dalam RPP. Dalam kognitivisme hal
diperhatikan adalah proses belajar bukan hasil dari belajar seperti
behaviorisme yang terdiri atas stimulus dan respon. Hal ini memberikan ruang
bagi pserta didik untuk bisa mengkonsepkan dirinya dan mengembangkan
kognitifnya yang berimbas pada prilaku siswa.Penulisan blog ini akan menyatukan
teori kognitivitas kedalam perancangan RPP yang akan direvisi. Penulis berharap
semoga tulisan blog ini bermanfaat bagi pembaca dan membantu bagi para calon
guru.
B. Tujuan Penulisan
1.
Mampu
menghubungkan teori dengan implikasinya. (C5)
2.
Mampu menyatakan
pendapat tentang penilaian metode kognitivisme secara kualitatif. (A3)
3.
Mampu
mengoperasikan metode kognitivisme dalam pembelajaran. (P4)
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Prinsip Dasar Teori Kognitivisme
Prinsip teori psikologi kognitif adalah
bahwa setiap orang dalam bertingkah laku dan mengerjakan segala sesuatu senantiasa dipengaruhi oleh tingkat-tingkat
perkembangan dan pemahaman atas dirinya sendiri. Seseorang memiliki
kepercayaan, ide-ide, dan prinsip yang dipilih untuk kepentingan dirinya
sendiri.
Teori belajar kognitif
ini sangat erat hubungannya dengan teori psikologi kognitif. Aspek kognitifnya
mempersoalkan masalah bagaimana orang memperoleh pemahaman mengenai diri
sendiri dan lingkungannya, dan bagaimana mereka berhubungan dengan lingkungan
mereka dengan menggunakan kesadarannya, sedangkan aspek psikologisnya
menekankan pada hubungan antara orang
dengan lingkungan psikologinya secara bersamaan dan saling berhubungan secara
timbal balik. Dalam hal belajar, aspek psikologis ini memandang bahwa proses
belajar yang terjadi pada seseorang tidak tampak dari luar dan sifatnya
kompleks. Karena prilaku belajar seseorang tidak dipengaruhi oleh faktor dari
luar (eksternal), melainkan dipengaruhi oleh cara-cara bagaimana terjadinya
proses informasi di dalam diri seseorang (faktor internal).
Psikologi kognitif
lebih menekankannarti penting proses internal atau proses-proses mental manusia
daripada tampakan luarnya. Tingkah laku yang tampak tidak dapat diukur dan
diterangkan tanpa melibatkan proses mental, seperti motivasi, kesengajaan,
keyakinan, dan sebagainya. Sehubungan dengan belajar, teori kognitif memandang
bahwa belajar merupakan proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung.
Adapun perubahan tingkah laku yang tampak sesungguhnya adalah refleksi dari
perubahan, interaksi persepsi dirinya terhadap sesuatu yang diamati dan
dipikirkan.
Prinsip psikologi kognitif pembelajaran adalah:
1. Dasar
proses pembelajaran. Pembelajaran adalah suatu proses alamiah untuk mencapai
tujuan yang bermakna secara pribadi, bersifat aktif, dan melalui mediasi secara
internal, merupakan proses pencarian dan pembentukan makna terhadap informasi
dan pengalaman yang disaring melalui persepsi unik, pemikiran, dan perasaan
siswa.
2. Tujuan
proses pembelajaran. Siswa mencari untuk menciptakan makna, representasi
pengetahuan melalui kuantitas dan kualitas data yang tersedia.
3. Pembentukan
pengetahuan. Siswa mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya yang
telah dimiliki melalui cara-cara yang unik dan penuh makna.
4. Pemikiran
tingkat tinggi. Strategi tingkat tinggi untuk “berpikir tentang berpikir” untuk
memantau dan memonitor proses mental, memfasilitasi kreativitas-kreativitas dan
berpikir kritis.
B. Tokoh-tokoh Kognitivisme
1. Teori
belajar cognitive Field Lewin
Kurt Lewin (September 9, 1890 – February 12, 1947) merupakan
psikolog German-Amerika.
Teori belajar cognitive Field Lewin menitikberatkan
perhatian pada kepribadian psikologi sosial karena pada hakikatnya
masing-masing individu berada di dalam suatu medan kekuatan, yang bersifat
psikologi. Medan kekuatan psikologis dimana individu bereaksi disebut live space.Live space mencakup perwujudan ligkungan dimana individu, misalnya
orang yang dijumpai, fungsi kejiwaan yang dimiliki dan objek material yang
dihadapi.
Jadi,
tingkah laku merupakan hasil interaksi antar kekuatan, baik yang berasal dari
dalam diri individu, seperti tujuan, kebutuhan, tekanan kejiwaan, maupun yang
berasal dari luar diri individu, seperti tantangan dan permasalahan yang dihadapi. Menurut teori
ini, belajar itu berlangsung sebagai akibat dari perubahan dalam struktur
kognitif.
Perubahan
struktur kognitif itu adalah hasil pertemuan dari dua kekuatan, yaitu yang berasal
dari struktur medan kognitif itu sendiri dan yang lainnya berasal dari
kebutuhan dan motivasi internal individu. Dengan demikian, peranan motivasi
jauh lebih penting daripada reward atau hadiah. 1 (Prof. Dr. H. Djaali,
psikologi pendidikan (Jakarta : PT bumi Aksara , 2006) hal. 75
2. Teori
belajar cognitive development Piaget
Jean
Piaget adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan psikolog perkembangan Swiss, yang
terkenal karena hasil penelitiannya tentang anak-anak dan teori perkembangan
kognitifnya.
Lahir : 9 Agustus 1896, Neuchâtel,
Swiss
Pendidikan : University of Neuchâtel (1918),
Universitas Zürich
Dalam
teori ini, Piaget memandang bahwa proses berfikir merupakan aktivitas gradual
dari fungsi intelektual, yaitu dari berfikir kongkrit menuju abstrak. Berarti
terhadap objek yang dipelajari.Halini perlu dibiasakan sejak individu atau
siswa masih kecil. Berarti perkembangan kapasitas mental memberikan kemampuan baru yang
sebelumnya tidak ada.
PROSES KOGNITIF PIAGET
Skema :
kerangka kognitif / kerangka referensi
Asimilasi :
proses memasukkan pengetahuan baru ke dalampengetahuan yg sudah ada
Akomodasi :
menyesuaikan diri dengan infomasi yang baru
Organisasi :
mengelompokkan perilaku/ konsep kedalam kelompok-kelompok yang terpisah ke dalm
sistem kognitif yang lebih tertib,lancar; dengan menggunakan kategori-kategori meningkatkan
LTM
Ekulibirasi :
bergerak dari satu tahap ke tahap yang lainrawankonflik dalam usahanya memahami
unia (dsekulibium). Jika berhasilakan mendapatkan keseimbangan pemikiran.
Perkembangan intelektual adalah kualitatif, bukan
kuantitatif. Intelegensi itu terdiri atas tiga aspek:
1.
Struktur atau scheme ialah pola tingkah laku yang dapat
diulang.
2.
Isi atau konten ialah pola tingkah laku spesifik, ketika seseorang
menghadapi suatu masalah.
3.
Fungsi atau function adalah
yang berhubungan dengan cara seseorang mencapai kemajuan intelektual. Fungtion
terdiri atas dua macam fungsi infarian yaitu organisasi dan adaptasi.
Organisasi
berupa kecakapan seseorang dalam menyusun proses fisik dan psikis dalam bentuk
sistem yang koheren, sedangkan adpatasi adalah kemampuan seseorang dalam
menyesuaikan diri denganlingkungan. Adaptasi terdiri atas
dua macam proses komplementer, yaitu asimilasi
dan akomodasi. Asimilasi adalah proses penggunaan struktur atau
kemampuan individu untuk menghadapi masalah dalam lingkungannya. Sedangkan akomodasi ialah proses perubahan
respon individu terhadap stimulasi.
Jadi,
perkembangan kognitif tergantung pada akomodasi. Oleh karena itu, siswa harus diberikan suatu areal yang belum
diketahui, agar dia dapat belajar. Dengan adanya area baru ini siswa akan
mengadakan usaha-usaha untuk dapat pengkomodasi. Situasi atau area itulah yang
akan mempermudah perkembangan kognitif. 2 (ibid h. 76)
3.
Discovery
Learning Bruner
Jerome Seymour Bruner (lahir Oktober 1, 1915)
merupakan psikolog yang memberikan kontribusi besar terhadap psikologi kognitif
manusia dan teori pembelajaran kognitif pada bidang psikologi pendidikan.
Menurut
Brune dalam buku Sugihartono dkk. (2007:11), belajar merupakan proses yang
bersifat aktif. Artinya cara terbaik seseorang untuk memulai belajar konsep dan
prinsip-prinsip tertentu adalah dengan mengonstruksi sendiri konsep dan prinsip
yang dipelajari, yaitu dengan cara siswa berinteraksi secara langsung dengan
lingkungannya untuk melakukan eksplorasi, manipulasi, membuat pertanyaan, dan
melakukan eksperimen terhadap objek yang dipelajari.
Yang menjadikan dasar ide J. Burner ialah pendapat
dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperanan secara aktif di dalam
belajar di kelas. Untuk itu Bruner memakai cara dengan apa yang disebut Discovery Learning, yaitu dimana murid
mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir prosedur ini
berbeda dengan Reseption Learning atau
Expository Teaching, dimana guru
menerangkan semua informasi dan murid harus mempelajari semua bahan atau
informasi itu.
Banyak
pendapat yang mendukung discovery leanring
itu, diantaranya J. Dewy (1993) dengan complete
art of activity atau terkenal dengan problem solving.Ide Bruneritu ditulis
dalam bukunya process of education.
Di dalambuku itu ia melaporkan hasil dari suatu konferensi diantara para ahli
sains, ahli sekolah atau pengajaran dan pendidik tenang pengajaran sains. Ia
mengemukakan pendapatnya bahwa mata pelajaran dapat diajarkan secara efektif
dalam bentuk intelektual yang sesuai dengan tingkat perkembanganpada tingkat permulaan pengajaran
hendaknya dapat diberikan melalui cara-cara yang bermakna dan makin meningkat
dengan cara yang abstrak.
Bruner
mendapatkan pertanyaan, bagaimana kitadapat mengembangkan program pengajaran
yang lebih efektif bagi anak muda? Jawaban Brunner ialah dengan
mengkoordinasikan metode penyajian bahan dengan cara dimana anak dapat
mempelajari bahan itu, yang sesuai dengan tingkat kemajuan anak.
Tingkat-tingakat kemajuan dari tingkat representasi sensori (enactive) ke
representasi konkret (iconic) dan akhirnya ke tingkat reprensentasi yang
abstrak (symbolic) pernyataan lain dalam proccess
of education ialah tentang bagaimana mata pelajaran itu harus diajarkan.
Kurikulum dari suatu mata pelajaran harus ditentukan oleh pengertian yang
sangat fundamental bahwa hal itu dapat dicapai berdasarkan prinsip- prinsip
yang memberikan struktur bagi mata pelajaran itu.Maka di dalam mengajar harus
dapat diberikan kepada murid struktur dari mata pelajaran itu.Murid harus
mempelajari prinsip-prinsip itu sehingga terbentuklah suatu disiplin itu.
Bruner menyebutkan hendaknya guru harus memberikan kesempatan kepada muridnya
untuk menjadi seorang problem solver,
seorang saintis historis, atau ahli
matematika. Biarkanlah murid- murid kita menemukan arti bagi diri mereka
sendiri, dan memungkinkan mereka untuk mempelajari konsep-konsep di dalam
bahasa yang dimengerti mereka.
The art of discovery
dari Brunner:
a.
Adanya suatu
kenaikan berkala di dalam potensi intelektual.
b.
Ganjaran intrinsik
lebih ditekankan daripada ekstrinsik.
c.
Murid yang
mempelajari bagaimana menemukan berarti murid itu menguasai metode discovery learning.
d.
Murid lebih
sering mengingat-ingat informasi.
Teorinya yang merupakan adaptasi dan
pengembangan dari teori tahapan perkembangan kognitif Piaget mempertajam dan
memperkaya konsep pendidikan untuk anak-anak terutama pendidikan anak usia
dini. Menurut Brunner dalam Sugihartono dkk. (2007: 112), proses belajar lebih
ditentukan oleh bagaimana cara siswa mengatur dan mengolah materi pelajaran
bukan ditentukan oleh umur.
Teori belajar Brunner tersebut
memunculkan aplikasi dalam dunia pendidikan dalam bentuk discovery learning dan kurikulum spiral. Menurut Brunner dalam Asri
Budinningsih (2005: 42), perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan
dengan cara menyusun materi pelajaran dan menyajikannya sesuai dengan tahap
perkembangan individu tersebut.Hal ini disebabkan teori ini menuntut adanya
pengulangan-pengulangan untuk memperkuat asimilasi dan akomodasi pengetahuan
baru. Dengan demikian, tujuan penddikan menurut Brunner dala Sugiono dan
Hariyanto (2011: 89) adalah guru memerankan diri sebagai pemandu bagi siswanya
sehingga para siswa dapat membangun pengetahuannya sendiri secara aktif bukan
karenaproses hafalan. Discovery learning
merupakan konsep dasar teori belajar yang dikemukakan oleh Brunner.
Asri budinningsih belajar dan
pembelajaran 2005 jakarta rineka cipta
BAB
III
ANALISIS
TEORI
Penjelasan bahwa proses lebih penting bisa
dianalogikan seperti ini:
Ketika hari ujian siswa A, siswa B, siswa C,
melaksanakan ujian mata pelajaran yang sama dalam kelas yang sama. Guru sudah
memberitahukan sejak tiga hari yang lalu. Siswa A segera belajar setelah guru
memberitahukan informasi itu. Dalam proses belajarnya siswa A membutuhkan waktu
dua hari untuk menghafal sedangkan siswa B pada malam hari sebelum ujian ia
baru membuka buku peajaran yang akan diujkan. Lain halnya siswa C yang
bersantai-santai pada waktu menjelang ujian.Waktu ujian terlaksanakan semua
siswa mengerjakan berbarengan.Siswa C melihat hasil kerjaan temannya kemudian
menyalin pada lembar jawabannya.Pada waktu pembagian hasil ujian siswa C
mendapatkan nilai tertinggi diikuti dengan nilai siswa B kemudian siswa A.
Jika kita melihat hasil, mungkin kita akan
berkata bahwa siswa C merupakan yang paling pintar di antara semua siswa.
Kemudian siswa A yang paling terendah di antara mereka. Namun dalam tinjauan
proses bahwa siswa B yang paling pintar karena kemampuan kognitifnya yang cepat
memahami pelajaran dalam waktu singkat dengan hasil yang baik. Ternyata siswa B
menggunakan pemahaman dalam belajarnya sehingga ia tidak lupa ketika menjawab
ujian karena pemahamannya ia mampu mengaitkan materi pelajaran itu dengan
kehidupannya. Pada siswa A ia mengalami lupa dalam hafalannya ketika menjawab
soal ujian.
Dari proses juga kita bisa meninjau dari hasil
psikomotorik atau prilaku mereka. Jika dilihat dari aspek psikomotorik maka
siswa C merupakan siswa yang paling bodoh. Karena ia tidak melakukan apa-apa
dalam menjawab ujiannya. Ia melakukan copy-paste terhadap jawabannya
yang mungkin jika ditanya setelah ujian “apa jawabanmu?” mungkin ia akan bilang
“aku pun tidak paham soalnya”. Lalu apakah siswa C sudah disebut belajar?
Belum, bahkan seharusnya ia harus mengulang pelajaran tersebut karena pelajaran
yang ia terima belum mengintegrasi perkembangan kognitif dalam pikirannya. Disini
proses sangat penting daripada sekedar hasil belajar.
Apakah guru harus menghukum siswa C?Menurut
Piaget seorang siswa harus diberikan suatu areal yang belum diketahui, agar dia
dapat belajar. Seorang guru tidak harus mengeluarkan siswanya dari sekolah
ketika ia ditemukan melakukan hal-hal yang negative. Karena itu hanya membuat
siswa melakukan hal yang sama pada tempat lain. Seorang guru harus memberikan
tindakan dimana mengajaknya dan membimbingnya untuk berpikir, sehingga siswa C
mendapat pemahaman apa yang dilakukannya tidak baik sehingga ia tidak akan
mengulanginya lagi seumur hidupnya. Ketika siswa tidak pernah mengulangi
kesalahan itu lagi maka siswa C sudah melakukan belajar untuk tidak pernah
mencontek lagi.
Apa yang harus dilakukan pada siswa A dan siswa
B. Dalam teori yang dikemukakan oleh Field Lewin bahwa menurutnya peranan motivasi jauh lebih penting daripada reward
atau hadiah. Tentunya motivasi berguna untuk membangun diri
mereka agar melakukan hal yang lebih baik daripada yang ia kerjakan sekarang.
Sehingga kognitif mereka akan terus berkembang yang direfleksikan pada tingkah
laku mereka yang jujur.
Implikasi teori kognitif bisa diterapkan
ketika memahami proses alam yang terjadi dari ayat Quran di bawah ini:
Artinya:
“Dan
Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan
rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami
halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka
Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti
itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu
mengambil pelajaran.” (7: 57)
Ayat ini
merupakan sebuah seruan yang jelas untuk melihat, menganalisis, dan mengkaji
secara ilmiah tentang semua makhluk, dan tentang semua fenomena kosmologi.Ketika
orang yang berpikir membaca ayat ini maka ia akan merenung memperhatikan
turunnya hujan. Timbul perasaan keinginantahuan “mengapa hal ini bisa terjadi?”
ia pun akan mencari tahu penyebab turunnya hujan melewati media pembelajaran seperti internet
dll ataupun bertanya langsung pada guru pelajaran IPA. Ketika ia diberi
penjelasan mengenai turunnya hujan yang diakibatkan oleh penguapan ia memahaminya
dengan cara membayangkan secara abstrak ataupun dengan menganalogikannya pada
kejadian sehari-hari. Setelah ia semakin paham maka akan timbul suatu inovasi
“apakah hujan bisa dibuat?”. Ketika ia
mendapat informasi bahwa garam bisa menggabungkan butir-butir atmosfer di awan,
ketika ia mencobanya yang dihasilkan ternyata hujan bisa dipercepat turunnya
bukan dibuat. Kemudian mengevaluasinya apakah bisa menimbulkan dampak negatif?Ketika
berevaluasi dan sudah melakukan inovasi terhadap pemahaman pertamanya, proses
berpikir ini sudah mencapai ranah tertinggi dalam domain cognitive Bloom.
Disini murid sudah menguasai discovery learning
yang dikemukakan Brunner dengan uraian berikut:
The art of discovery
dari Brunner:
1.
Adanya suatu kenaikan berkala di dalam potensi intelektual.
2.
Ganjaran intrinsik lebih ditekankan daripada ekstrinsik.
3.
Murid yang mempelajari bagaimana menemukan berarti murid itu menguasai
metode discovery learning.
4.
Murid lebih sering mengingat-ingat informasi
Ketika ia berpikir lebih lanjut dengan perasaan
takjub pada ciptaan Allah SWT. Hal ini akan memberikan suasana hati yang beda
pada dirinya sehingga ia pun akan mengingat ilmu yang ia dapatkan dari proses
turunnya hujan. Kejadian yang menggugah emosional kemudian yang memunculkan ide
atau konsep akan memunculkan long term memory pada pikirannya.
Hal ini bisa berimbas pada tingkah laku atau
psikomotornya dimana ia akan berbuat baik seperti orang beriman seiring
bertambah iman dalam hatinya seiring dengan pemahaman kognitif dari ayat
kauniyah di atas.
Hal ini yang diharapkan Field Lewin dimana kognitif mempengaruhi tingkah
laku secara sadar maupun tak sadar.
Secara ringkas teori yang dikemukakan para tokoh adalah sama namun yang
berbeda hanya kefokusan mereka dalam memberikan proses belajar kemudian aspek
yang dinilainya.
Perbandingan teori para tokoh:
1.
Field
Lewin menitikberatkan pada tindakan atau prilaku secara sadar dan tidak sadar
terhadap lingkungan menurutnya itu terpengaruh dari perkembangan kognitif.
2.
Piaget
siswa diberikan area lingkungan baru untuk membanntu perkembangan kognitifnya.
Karena berlajar adalah proses perubahan tingkah laku akibat dari gradual
intelektual.
3.
Discovery
Learning Bruner hipotesa proses belajar
tingkat ia mendapatkan pemahaman tidak ditentukan oleh umur,mengembangkan
teori-teori Piaget, discovery learningmengarahkan guru menjadi
pemandusiswa untuk membentuk pemahamannya sendiri.
Daftar
Pustaka
Azwar, saifuddin. 1998. Sikap Manusia: Teori Dan Pengukurannya
Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Jalaludin.
1996. Psikologi agama Jakarta: PT. Grafindo Persada
Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan
Yogyakarta : UNY Press
Suparno,
Paul. 2000. Teori Perkembangan Kognitif. Yogyakarta: PT. Kanisius.
Roymond,
Ns. 2008. Buku Ajar Kependidikan Dalam Keperawatan Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC
Zimmer,
Ratih. 2009. Mengoptimalkan IQ & EQ Anak Melalui Sensomotorik.
Jakarta: Penerbit Libri.
http://ayahalby.files.wordpress.com/2013/04/kognitif-dan-moral-2013.pdf
diakses pada Minggu, 29 Juni 2014
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/110/jtptunimus-gdl-jumiatig2a-5475-3-babii.pdf
diakses pada Minggu, 29 Juni 2014
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/132280878/Pengemb%20sikap%20dan%20perilaku%20bermoral%20di%20sekolah-Majalah%20Ilmiah%20Pembelajaran-Mei-2011.pdf
diakses pada Minggu,
29 Juni 2014