RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
A.
IDENTITAS PENGAJAR
Nama :
Adnavi Ulfa
Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 24 Juli 1995
Umur : 19 Tahun
Status : Mahasiswi Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Jurusan :
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam
Prodi :
Pendidikan Fisika
Semester :
Dua (II)
B.
IDENTITAS SISWA
Nama :
Lina Sabila
Tempat
Tanggal Lahir : Tangerang, 1 Desember 1997
Umur :
17 tahun
Tingi
Badan :
158 cm
Berat
Badan : 50
kg
C. RPP
Nama Sekolah : SMA Daar El-Qolam
Mata Pelajaran : Fisika
Kelas/Semester : X/Dua
Peminatan : M-IPA
Alokasi Waktu : 4 x 3 JP
Materi Pokok : Elastisitas
D.
Kompetensi Inti
KI 1 :Menghayati dan mengamalkan ajaran
agama yang dianutnya.
KI 2 :Mampu berfikir logis dalam situasi yang mendesak. Mampu mengatur emosi
dalam segala tindakan sehingga menimbulkan konsep diri dan kepribadian yang
tenang dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan.Seiring dengan penalaran
kognitif yang meningkat, mempengaruhi prilakunya secara sadar dan tidak sadar.
(Teori Field Lewin)
KI 3 :Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam
ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan
kemanusiaan, meningkatkan kemampuan beradaptasi dengan lingkungannya
(asimilasi), sehingga menjadi pribadi yang peduli terhadap sesama,
membangkitkan semangat bangsa pada dirinya untuk berjuang dengan melihat
kondisi negaranya. (Teori Piaget)
KI 4 :Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang
dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metode sesuai
kaidah keilmuan. (Teori Discovery Learning)
E.
Kompetensi Dasar
Menganalisis sifat elastisitas bahan dalam kehidupan
sehari hari
Mengolah dan menganalisis hasil
percobaan tentang sifat elastisitas
suatu bahan
F.
Indikator
· Menjelaskaan karakteristik benda elastis sesuai hukum Hooke
· Melakukan percobaan hukum Hooke
· Menentukan konstanta pegas berdasarkan percobaan
· Membedakan stress dan strain
· Menganalisis susunan pegas seri dan paralel
· Menemukan penerapan sifat elastis dalam kehidupan dan teknologi
G.
Tujuan Pembelajaran
Setelah proses mencari informasi, menanya, berdiskusi, dan melaksanakan
percobaan siswa mampu:
Perkembangan kognitif (cognitive
development)
Yakni
perkembangan fungsi intelektual atau proses perkembangan kemampuan/kecerdasan
otak anak.
Seorang
pakar terkemuka dalam disiplin psikologi kognitif dan psikologi anak, Jean
Piaget (sebut: Jin Piasye), yang hidup antara tahun 1896 sampai tahun 1980,
berpendapat bahwa kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya sudah
dirintis sejak anak lahir, yang kemudian berkembanglah proses belajar anak
sejalan dengan tahapan perkembangannya, yang disebut sebagai perkembangan
kognisi anak atau perkembangan daya tangkap anak. Piaget sendiri membagi tahap
perkembangan kognitif anak dalam 4 tahap yaitu:
1)
Tahap
sensomotorik (lahir - 2 tahun)
2)
Tahap
praoperasional (2 - 7 tahun)
3)
Tahap
konkret-operasional (7 - 11 tahun)
4)
Tahap
formal-operasional (12 tahun ke atas)
(Ratih
: 2009)
a.
Tahap
sensorimotorik
Tahap sensori motor terjadi pada
umur sekitar 0-2 tahun. Dalam tahap ini anak dicirikan dengan tindakannya yang
suka menirukan dan bertindak secara refleks. Anak dalam tahap ini hanya
memikirkan apa yang terjadi sekarang. Anak akan meniru apa yang dibuat orang
dewasa maka model penanaman nilai perlu dengan cara menirukan, dan orang dewasa
sebagai teladan yang ditirukan.
b.
Tahap praoperasional
Pada tahap pra-operasional yang
terjadi pada umur 2-7 tahun, anak mulai menggunakan symbol dan bahasa.Dengan
penggunaan bahasa anak mulai dapat memikirkan yang tidak terjadi sekarang tetapi
yang sudah lalu. Dengan adanya bahasa maka ia dapat mengungkapkan sesuatu hal
yang lebih luas daripada yang dapat dijamah, yang sekarang dilihatnya. Dalam
hal sikap pribadi, anak pada tahap ini masih egosentris, berpikir pada diri
sendiri.Penanaman nilai mulai dapat menggunakan bahasa, dengan bicara, dan
sedikit penjelasan.
c.
Tahap
opeasional-konkret
Pada tahap operasional konkret, umur
7-11 tahun, anak sudah mulai berpikir transformasi reversible (dapat dipertukarkan) dan kekekalan.Dia dapat menegerti adanya
perpindahan benda, mulai dapat membuat klasifikasi, namun dasarnya masih pada
hal yang konkret.Anak sudah dapat mengerti persoalan sebab akibat.Maka dalam
penanaman nilai pun sudah dapat dikenalkan suatu tindakan dengan akibatnya yang
baik dan tidak baik.
d.
Tahap
Operasional Formal
Tahap operasi formal adalah tahap
terakhir dari perkembangan kognitif.Pada tahap ini anak sudah mampu berpikir
secara abstrak, hipotesis, mampu menggunakan logika, membedakan antara fakta
dan fantasi, mengelola perasaan, dan juga berpikir secara deduktif dan
induktif. Perkembangan yang sehat dan
normal membuat anak pada usia ini sudah mampu memecahkan masalah-asalah dengan
menggunakan berbagai alternatif dan memahami berbagai masalah yang kompleks dan
rumit.
Perkembangan
kognisi yang sedang menuju kedewasaan menyebabkan mereka mampu berpikir kritis
dan berani mengevaluasi diri.Kemampuan daya piker yang semakin baik membuat
mereka mampu menggunakan alternative dan mengantisipasi berbagai kemungkinan
konsekuensi atas keputusan mereka. Awas tayangan televise. Drs. E.B. Surbakti,
M.A. 2008 PT Elex Media Komputindo, jakarta
1. Memberikan contoh fenomena-fenomena
elastisitas yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. (C2)
Pada tahap ini anak sudah masuk pada tahap operasi formal dimana
sudah mampu mengaitkan teori yang abstrak seperti Hukum Hooke yang hanya
berisikan symbol dan keterangannya dengan peristiwa yang terjadi di alam. Hal
ini bertujuan untuk meluaskan pikirannya dan mengembangkan kognitifnya agar
bias menuju kepada ranah cipta, kreativitas, dan inovasi. Dengan melihat dampak
negatif pada kehidupan ia bias mencari solusi untuk memecahkannya yang membawa
pikirannya dalam ranah cipta dan aplikasinya. Dari dampak positif yang terjadi
ia dapat membuat inovasi dari peristiwa itu untuk menjadikannya berguna dalam
kehidupan sehari-hari.
2. Menghasilkan nilai konstanta dari percobaan yang dilakukan. (C3)
dari percobaan yang dilakukan siswa tahap operasi formal mampu
menghitung nilai konstanta elastisitas pada benda dari data-data yang ia
dapatkan. Ini melatih ketelitian dalam diri siswa. Jika tidak teliti hal ini
akan berdampak pada kesalahan nilai konstanta benda yang dihasilkan yang
diujicoakan dengan persamaan dalam teori. Disini melatih kognisis siswa dalam
mengevaluasi hasil pekerjannya.
3. Mengkategorikan benda-benda yang bersifat elastis. (C5)
Disini siwa dapat menentukan mana benda yang
bersifat elastis dan mana yang tidak. Siswa sudah bisa mengidentifikasi dan
menganalisa yang akan melatih kognisinya pada pengambilan kesimpulan. Dalam
kehidupannya sehari hal ini membantu dia dalam memecahkan masalah dalam
hidupnya ketika ia dihadapi hal-hal banyak yang ingin ia kerjakan, ia dapat
memilih yang mana sangat prioritas dan bermanfaat baginya maka ia akan
melakukan hal itu dahulu.
Siswa disini sudah dikategorikan dalam kelompok remaja, dalam teori
perkembangan kognitif Piagetian masa remaja adalah tahap transissi dari
penggunaan berpikir konkret secara operasional ke berfikir formal secara
operasional. Mereka menilai pengalaman dengan masalah yang kompleks, tutntutan
dari pengajaran formal, dan tukar-menukar ide yag berlawanan dengan kelompok
remaja, diperlukan untuk perkembangan berpikir secara operasional. Remaja yang
mampu mengatasi kelemahan pada dirinya mencapai tingkat berpikir setingkat
orang dewasa.
Sri esti W.D. psikologi pendidikan edisi revisi grasindo Jakarta
Pengertian Sikap dan Perilaku yang Bermoral
Setiap orang pada umumnya sulit untuk melepaskan perasaan senang
dan tidak senang dari persepsi dan prilakunya ketika berinteraksi dengan suatu
obyek tertentu.
Dalam mental kita selalu saja ada mekanisme mental yang
mengevaluasi, membentuk
pandangan, mewarnai perasaan, dan ikut menentukan kecenderungan
perilaku kita terhadap manusia atau sesuatu yang sedang kita hadapi, bahkan terhadap
diri kita sendiri.Pandangan dan perasaan kita dipengaruhi oleh ingatan kita
akan masa lalu, oleh apa yang kita ketahui dan kesan kita terhadap apa yang
sedang kita hadapi. (Azwar, 1998: 3)
Itulah fenomena sikap yang timbulnya tidak saja ditentukan oleh
keadaan obyek yang sedang kita hadapi tetapi juga oleh kaitannya dengan
pengalaman-pengalaman masa
lalu, oleh situasi saat ini, dan oleh harapan-harapan kita untuk
masa yang akan datang.
Dengan demikian untuk selalu dapat bersikap positif, seseorang perlu
dilatih mentalnyasejak kecil dengan pengalaman-pengalaman yang positif (citra
positif) dan dibiasakan menghadapi persoalan-persoalan dengan persepsi positif
juga.
Menurut Thurston, Likert, dan Osgood (Azwar, 1998: 5):
Sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan.Sikap
seseorang terhadap suatu obyek adalah perasaan mendukung atau memihak
(favorable) maupun perasaan tidak mendukung dan tidak memihak (unfavorable)
pada obyek tersebut.
Sementara menurut La-Pierre (Azwar, 1998: 5) sikap lebih diartikan
sebagai suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi
untuk menyesuaikan
diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah
respon terhadap stimuli
sosial yang telah terkondisikan. Sikap seseorang terhadap sesuatu
obyek umumnya dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianut dan melatarbelakangi
seseorang tersebut sebagai pengalaman hidupnya. Orang yang telah tertanam dan
terkristal nilai-nilai tertentu dalam mental atau kepribadiannya, tentunya
dalam menghadapi dan merespon sesuatu tersebut akan diwarnai oleh nilai-nilai
yang diyakininya. Berbicara sikap biasanya selalu dikaitkan dengan perilaku
yang berada dalam batas kewajaran dan kenormalan yang merupakan respon atau
reaksi terhadap stimulus lingkungan sosial. Menurut teori tindakan beralasan
oleh Icek Ajzen dan Martin Fishbein (Azwar,
1998: 11), dikatakan bahwa sikap mempengaruhi perilaku melalui
suatu proses pengambilan keputusan yang teliti dan beralasan, dan dampaknya
hanya pada tiga hal.
4.
Pertama,
perilaku tidak banyak ditentukan oleh sikap umum tetapi ditentukan oleh sikap
specific (rasionalitas) terhadap sesuatu. Kedua, perilaku tidak hanya
dipengaruhi oleh sikap, tetapi juga oleh norma-norma subyektif yaitu keyakinan
kita mengenai apa yangorang lain inginkan, agar kita perbuat. Ketiga sikap
terhadap suatu perilaku bersama-sama norma subyektif membentuk suatu intensi
atau niat untuk berperilaku tertentu.Secara sederhana teori ini mengatakan
bahwa seseorang akan melakukan suatu perbuatan (perilaku) apabila ia memandang
perbuatan itu positif dan bila ia percaya bahwa oranglain ingin agar ia
melakukannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seseorang yang yakin
bahwa tindakan (perilaku) yang akan dilakukan menimbulkan dampak positif pada
dirinya, ia akan bersikap cenderung melakukan tindakan tersebut. Begitu
sebaliknya jika ia yakin tindakan yang dilakukannya berdampak negatif pada
dirinya, ia bersikap menolak melakukan tindakan tersebut. Hal ini disebut
keyakinan pribadi.
Selain
berhubungan dengan perilaku, sikap juga berhubungan dengan perkembangan nilai
individu dan juga perkembangan moral dan mental etis seseorang. Hal ini
sebagaimana di ungkapkan oleh Martin and Briggs (1986: 447), bahwa: “
Attitudes, we believe, form the building blocks for values development and for
the development of moral and ethical stances.” Kita percaya bahwa sikap membentuk blok bangunan perkembangan nilai dan perkembangan moral dan mental etis). Dengan demikian untuk membentuk seseorang yang memiliki moral yang baik dan bermental etis perlu memperhati kan perkembangan sikapnya.
Pembentukan Sikap dan Perilaku
Sikap terbentuk
melalui hasil belajar dari interaksi dan pengalaman seseorang, dan bukan faktor
bawaan (faktor intern) seseorang, serta tergantung obyek tertentu (Jalaluddin,
1996:187).
Dengan demikian
sikap terbentuk oleh adanya interaksi social yang di alami oleh
individu.Menurut Darmiyati Zuchdi (1995: 57) bahwa dalam interaksi sosial,
individu membentuk pola sikap tertentu terhadap objek psikologis yang
dihadapinya. Azwar (1998: 30) menyebutkan berbagai faktor yang mempengaruhi
pembentukan sikap itu antara lain yaitu; pengalaman pribadi, kebudayaan, orang
lain yang dianggab penting, media massa, lembaga pendidikan atau lembaga agama,
dan faktor emosi dalam diri individu. Menurut pandangan psikologi, sikap
mengadung unsur penilaian dan reaksi afektif, sehingga menghasilkan motif.
Menurut Mar’at (Jalaluddin, 1996: 189), menyatakan bahwa motif menentukan
tingkah laku nyata (overt behavior) sedangkan reaksi afektif bersifat tertutup
(covert). Motif sebagai daya pendorong arah sikap negative atau positif akan
terlihat dalam tingkah-laku nyata pada diri seseorang atau kelompok.
Sedangkan motif
dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu dapat diperkuat oleh komponen afeksi.
Motif demikian biasanya akan menjadi lebih stabil. Pada tingkat tertentu motif
akan berperan sebagai central attitude (penentu sikap) yang akhirnya
akanmembentuk predisposisi.Proses ini terjadi dalam diri seseorang terutama
pada tingkatusia dini. Predisposisi menurut Mar’at (Jalaluddin, 1996: 189)
merupakan sesuatu yangtelah dimiliki seseorang semenjak kecil sebagai hasil
pembentukan dirinya sendiri.
Dalam hubungan
ini tergambar bagaimana hubungan pembentukan sikap sehingga menghasilkan pola
tingkah laku tertentu. Dengan demikian pembelajaran nilai-nilai moral kepada
anak sejak dini usia bagaimananpun akan berpengaruh dalam membentuk kesadaran
dan pengalaman moral pada diri anak yang pada akhirnya akan berpengaruh pada
sikap dan pola tingkah laku anak dalam kehidupan selanjutnya
Pengembangan
Sikap Dan Perilaku Siswa Yang Bermoral
Moralitas
Menyangkut apa yang seharusnya atau yang seharusnya tidak dilakukan
dalam situasi tertentu, apa yang benar atau yang salah dengan melakukannya, apa
yang baik dan apa yang buruk pada tindakannya orang-orang yang terlibat di
dalamnya.
Teori Perkembangan moral Kohlberg
Ada 3 tingkatan perkembangan moral
1.
Prakonvensional
: di mana perilaku benar dipandang sebagai apapun yg secara langsung
menguntungkan dirinya sendiri. (perlu motivasi)
2.
Konvensional
: norma-norma keluarga, kelompok dan masyarakat diterima sebagai standar
moralitas yang final. (menyenangkan orang lain)
3.
Pascakonvensional
: bila seseorang memandang standar benar dan salah sebagai seperangkat prinsip
berkaitan dengan hak dan kebaikan umum yg tidak dapat dikurangi oleh
kepentingan pribadi atau kesepakatan dan kebiasaan sosial.
Teori perkembangan Moral Gilligan
Teori dengan mempertimbangkan gender
·
Laki-laki
: memecahkan permasalahan dgn menentukan kaidah moral mana yang paling penting
dan harus mengkesampingkan kaidah moral yang lain
·
wanita
: lebih pada mempertahankan hubungan personal dengan semua orang yang terlibat
dalam situasi.
Teori perkembangan Moral Gilligan
Ada 3 tingkatan perkembangan moral
1.
Prakonvensional
: orang disibukkan dengan penalaran egois.
2.
Konvensional
: kesibukan berlawanan dgn tak merugikan orang lain dan dengan kemauan
mengorbankan kepentingan diri sendiri.
3.
Pascakonvensional
: individu menjadi mampu mencapai keseimbangan berdasarkan penalaran antara
memperhatikan orang lain dan mengejar kepentingan sendiri sementara menjalankan
hak-haknya.
5.
Memperbandingkan hasil analisa awal dengan
hasil setelah percobaan (A4)
Dalam hal ini siswa sudah tertarik dalam melakukan percobaan karena ia
sudah membandingkan dengan hipotesa awal. Bagaimana siswa menyikapi kesalahan
hipotesa awalnya? Menurut teori gender Gilligan wanita lebih cenderung untuk menerima kesalahan
namun ia akan menggunakan bahasa yang sopan dalam mengungkapkan kesalahannya
kepada guru. Karena remaja kurang suka memperlihatkan kekurangannya dengan
jelas karena akan mengurangi daya tariknya. Hal ini tentu melatih sikap ia
dalam menerima kritik dengan tidak emosi dalam menanggapinya.
4.
Memperlihatkan hasil dari pecobaan dengan
membuat susunan laporan metode ilmiah. (A5)
Hal ini membantu siswa untuk bersikap
sistematis dan bertanggung jawab dari hal apa yang ia lakukan. Sistematis akan
membawa kehidupan yang teratur dengan tujuan hidup yang jelas.
Menurut teori siswa ini masuk dalam tahap
pasca konvensional dimana menurut Gilligan siswa
menjadi mampu mencapai keseimbangan berdasarkan penalaran antara memperhatikan
orang lain dan mengejar kepentingan sendiri sementara menjalankan hak-haknya.
Perkembangan Psiko-Siswa
Perkembangan
motor (motor development)
Yakni
proses perkembangan yang progresif dan berhubungan dengan perolehan aneka ragam
keterampilan fisik anak (motor skills).
Belajar keterampilan fisik (motor
learning) dianggap telah terjadi
dalam diri seseorang apabila ia telah memperoleh kemampuan dan keterampilan
yang melibatkan penggunaan lengan (seperti menggambar) dan tungkai (seperti
berlari) secara baik dan benar.Untuk belajar memperoleh kemampuan
keterampilan jasmani, ia tidak hanya cukup dengan latihan dan praktik, tetapi
juga memerlukan kegiatan perceptual
learning (belajar
berdasarkan pengamatan) atau kegiatan sensory-motor
learning (belajar keterampilan indriawi-jasmani).
Dalam
kenyataan sehari-hari, cukup banyak keterampilan indriawi-jasmani yang rumit
dan karenanya memerlukan upaya manipulasi (penggunaan secara cermat),
koordinasi, dan organisasi rangkaian gerakan secara tepat, umpamanya
keterampilan bermain piano.
Demikian
besarnya ketergantungan kinerja
keterampilan jasmani tersebut pada keterlibatan ranah cipta terbukti dengan
sering munculnya kekeliruan siswa yang malas berpikir dalam hal menulis,
menggambar, dan memeragakan fisik tertentu. Dengan demikian, hampir
dapat dipastikan bahwa apabila sebuah aktivitas keterampilan jasmani seseorang
(siswa), seperti menyalin pelajaran, dilakukan secara otomatis tanpa perhatian
fungsi ranah cipta yang memadai, walaupun ia sudah biasa karena sering
melakukannya, kesalahan mungkin akan
terjadi.
Sehubungan
dengan hal itu, motor skills
(kecakapan-kecakapn jasmani) perlu dipelajari melalui aktivitas pengajaran dan latihan langsung, bisa juga melakukan
pengajaran teori-teori pengetahuan yang bertalian dengan motor skills itu sendiri.Aktivitas latihan perlu dilaksanakan
dalam bentuk praktik yang berulang-ulang oleh siswa, termasuk praktik
gerakan-gerakan yang salah dan tidak dibutuhkan, sehingga siswa memahami bagian
yang keliru dan dapat segera melakukan perbaikan.Akan tetapi, dalam praktik itu
hendaknya dilibatkan pengetahuan ranah
akal siswa.Praktik tanpa melibatkan ranah akal, umpumanya insight (tilikan akal) siswa yang
memadai terhadap teknik dan patokan kinerja yang diperlukan, tak dipandang
bernilai dan hanya ibarat orang yang sedang senag beramai-ramai.
Selanjutnya,
ada empat macam faktor yang mendorong kelanjutan perkembangan motor skills anak
yang juga memungkinkan campur tangan orang tua dan guru dalam mengarahkannya,
yaitu: 1) pertumbuhan dan perkembangan system syaraf; 2) pertumbuhan otot-otot;
3) perkembangan dan perumbuhan fungsi kelenjar endokrin; dan 4) perubahan
struktur jasmani.
6.
Mempersiapkan
alat-alat percobaan yang digunakan sesuai prosedur dan mengawali dengan doa
(P2)
Dalam tujuan ini siswa diharuskan mempersiapkan alat-alat yang akan
dibutuhkan pada praktikum. Dari sini guru bisa melihat bagaimana kecekatan
siswa dalam memilih alat-alat praktikum. Hal ini mencegah adanya hambatan dalam
praktikum ketika berlangsung contoh lupa mengambil alat neraca atau mencari
alat-alat praktikum yang akan menghabiskan waktu dan bisa menghilangkan
konsentrasi siswa dalam menganalisis percobaan.
Karena tidak semua alat-alat di laboratorium itu dipraktikkan, sehingga
dalam mempersiapkan barang ini siswa juga butuh ranah akalnya. Jika siswa hanya
bergerak mengambil barang-barang saja tanpa menggunakan ranah akalnya
memungkinkan siswa melakukan kesalahan pada percobaan sehingga menyulitkan
dirinya. Disini kegiatan sensory-motor learning dan perceptual learning berlangsung.
7.
Memasang
alat-alat percobaan (P3)
Disini guru menginginkan siswanya
untuk memasang sendiri alat percobaannya.Karena meode ini menggunakan metode
belajar kognitif dimana guru menjadi pemandu dan memberikan ruang bagi siswa,
sehingga murid hanya diberikan modul praktikum dan siswa menganalisa sendiri
modul tersebut dan mencoba melaksanakan percobaannya dengan memasang alat-alat
yang telah dipersiapkan oleh dirinya sendiri.
Setelah selesai memasang siswa akan
melakukan percobaan yang dicantumkan dalam tujuan kogntif di atas.
Disini siswa dikataegorikan remaja
dalam perkembangan psikomotornya.Tujuan ini dibuat untuk mencapai kematangan
atau kesediaan psikomotornya.Kesediaan ini termasuk perkembangan fisikal dalam
otot, tulang, anggota dan pengawalan penyelarasan pergerakan di seluruh
tubuh.Kemahiran psikomotor dapat dipelajari dengan baik melalui latihan dan
demonstrasi yang intensif serta daripada hasil maklum balas yang diperoleh
mengenai prestasi murid.Dalam percobaan Mc Graw (dalam Cecco, 1968 dan Habibah
dan Rahil, 1990) dua anak yang kembar diberikan pembelajaran erbeda.Satu anak
diberikan latihan berupa kognitif sajadan yang satu lagi diberikan pembelajaran
kognitif dan psikomotor.Pada bulan kedelapan belas didapati hasil prestasi yang
berbeda.Kajian ini meunjukkan kesediaan adalah produk daripada atihan dan
kematangan.
Kesediaan psikomotor dapat dilihat
dari dua komponen.Kematangan fisik dan kemahiran asas.Kematangan fisik adalah
aspek-aspek organic dan menentukan tahap kematangan individu (Sharifah
1986).Kematangan fisik remaja biasanya sempurna dan tercapai pada umur tujuh
belas dan delapan belas tahun. Kematangan fisik akan membawa pada kemahiran
asas.
Menurut Ee Ah Meng (1994), kemahiran
asas yang ada pada seorang individu menjadikannya lebih bersedia mempelajari
sesuatu. Setelah percobaan ini siswa dapat memperbaiki alat-alat yang
berhubungan dengan elastisitas dengan dasar hokum Hooke. (intrapersonal dan interpersonal untuk remaja
Shahizan, Tsai Chen Chien, Saw Hooi Chin, PTS Professional Publishing <
kuala Lumpur, 2003) Seperti permainan
ketapel ia bisa memiih karet mana yang kuat untuk menarik batu yang akan
dilemparkan karet gelang atau potongan bekas karet ban.
KARAKTER YANG DIHARAPKAN PADA SISWA
·
Jujur
·
Mampu
beradaptasidimanapun ia ditempatkan
·
Teliti
·
Bertanggung
Jawab
Perkembangan emosi pada anak
1.
Pengertian
Emosi
Menurut Sarlito Wirawan Sartono
berpendapat bahwa emosi merupakan setiap keadaan pada diri seseorang yang
disertai warna afektif.Yang dimaksud warna efektif ini adalah perasaan-perasaan
tertentu yang dialami pada saat menghadapi (menghayati) suatu situasi
tertentu.contohnya: gembira, bahagia, takut dan lain-lain. (Syamsu, 2008).
Berdasarkan pendapat dari para ahli
di atas maka dapat disimpulkan bahwa emosi adalah suatu keadaan yang kompleksi
dapat berupa perasaan / pikiran yang di tandai oleh perubahan biologis yang
muncul dari perilaku seseorang.
2.
Pengelompokan
Emosi
Emosi dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu emosisensoris
dan emosi kejiwaan (psikis).
a.
Emosi
Sensoris
,
yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap tubuh, seperti
rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyangdan lapar.
b.
Emosi
Psikis
,yaitu
emosi yang mempunyai alasan – alasan kejiwaan.Yang termasuk emosi jenis ini
diantaranya adalah :
1)
Perasaan
Intelektual, yaitu yang mempunyai sangkut paut denganruang lingkup kebenaran.
Perasaan ini diwujudkan dalam bentuk :
a) Rasa yakin dan tidak
yakin terhadap suatu hasil karya ilmiah
b) Rasa gembira karena
mendapat suatu kebenaran
c) Rasa puas karena
dapat menyelesaikan persoalan – persoalan ilmiah yang harus dipecahkan
2)
Perasaan
Sosial
yaitu
perasaan yang menyangkut hubungan dengan orang lain, baik bersifat perorangan
maupun kelompok. Wujud perasaan ini seperti :
a) Rasa solidaritas
b) Persaudaraan
(ukhuwah)
c) Simpati
d) Kasih sayang, dan
sebagainya
3) Perasaan Susila
yaitu
perasaan yang berhubungan dengan nilai –nilai baik dan buruk atau etika
(moral). Contohnya :
a)
Rasa
tanggung jawab (responsibility)
b) Rasa bersalah apabila
melanggar norma
c) Rasa tentram dalam
mentaati norma
4) Perasaan Keindahan
(estetis),
yaitu
perasaan yang berkaitan erat dengan keindahan dari sesuatu, baik bersifat
kebendaan ataupun kerohanian
a.
Perasaan
Ketuhanan
,yaitu
merupakan kelebihan manusia sebagai makluk Tuhan, dianugrahi fitrah (kemampuan
atau perasaan) untukmengenal Tuhannya. Dengan kata lain, manusia dianugerahi
insting religius (naluri beragama). Karena memiliki fitrah ini, maka manusia di
juluki sebagai “Homo Divinans”dan “Homo Religius” atau makluk yang
berke-Tuhan-an atau makhluk beragama (Syamsu, 2008).
3.
Pengaruh
Emosi Terhadap Perilaku dan Perubahan Fisik Individu
Ada beberapa contoh pengaruh emosi terhadap perilaku individu
diantaranya :
a. Memperkuat semangat, apabila orang merasa senang atau puas
atashasil yang telah dicapai.
b. Melemahkan semangat, apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan
dan sebagai puncak dari keadaan ini ialah timbulnya rasa putus asa (frustasi).
c. Menghambat atau mengganggu konsentrsi belajar, apabila sedang
mengalami ketegangan emosi dan bisa juga menimbulkan sikap gugup (nervous) dan
gagap dalam berbicara.
d. Terganggu penyesuaian sosial, apabila terjadi rasa cemburu dan
iri
hati.
e. Suasana emosional yang diterima dan dialami individu semasa
kecilnya akan mempengaruhi sikapnya dikemudian hari, baik terhadap dirinya
sendiri maupun terhadap orang lain
F. Perkembangan emosi pada
anak usia sekolah
Perkembangan emosi pada anak melalui beberapa fase yaitu :
a. Pada bayi hingga 18 bulan
1) Pada fase ini, bayi butuh belajar dan mengetahui bahwa lingkungan di
sekitarnya aman dan familier. Perlakuan yang diterima pada fase ini berperan
dalam membentuk rasa percaya diri, cara pandangnya terhadap orang lain serta
interaksi dengan orang lain. Contoh ibu yyang memberikan ASI secara teratur
memberikan rasa aman padabayi.
2) Pada minggu ketiga atau keempat bayi mulai tersenyum jika ia merasa
nyaman dan tenang. Minggu ke delapan ia mulai tersenyum jika melihat wajah dan
suara orang di sekitarnya.
3) Pada bulan keempat sampai kedelapan bayi mulai belajar mengekspresikan
emosi seperti gembira, terkejut, marah dan takut.Pada bulan ke-12 sampai 15,
ketergantungan bayi pada orang yang merawatnya akan semakin besar. Ia akan
gelisah jika ia dihampiri orang asing yang belum dikenalnya. Pada umur 18 bulan
bayi mulai mengamati dan meniru reaksi emosi yang di tunjukan orang-orang yang
berada di sekitar dalam merespon kejadian tertentu.
b. 18 bulan sampai 3 tahun
1) Pada fase ini, anak mulai mencari-cari aturan dan batasan yang berlaku
di lingkungannya. Ia mulai melihat akibat perilaku dan perbuatannya yang akan
banyak mempengaruhi perasaan dalam menyikapi posisinya di lingkungan. Fase ini
anak belajar membedakan cara benar dan salah dalam mewujudkan keinginannya.
2) Pada anak usia dua tahun belum mampu menggunakan banyak kata untuk
mengekspresikan emosinya. Namun ia akan memahami keterkaitan ekspresi wajah
dengan
emosi dan perasaan. Pada fase ini orang tua dapat membantu anak
mengekspresikan emosi dengan bahasa verbal.Caranya orang tua menerjemahkan
mimik dan ekspresi wajah dengan bahasa verbal.
3)
Pada usia antara 2 sampai 3 tahun anak mulai mampu
mengekspresikan emosinya dengan bahasa verbal. Anak mulai beradaptasi dengan
kegagalan, anak mulai mengendalikan prilaku dan menguasai diri.
c. Usia antara 3 sampai 5
tahun
1)Pada fase ini anak mulai mempelajari kemampuan untuk mengambil inisiatif
sendiri. Anak mulai belajar dan menjalin hubungan pertemanan yang baik dengan
anak lain, bergurau dan
melucu serta mulai mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.
2) Pada fase ini untuk pertama kali anak mampu memahami bahwa satu
peristiwa bisa menimbulkan reaksi emosional yang berbeda pada beberapa orang.
Misalnya suatu pertandingan akan membuat pemenang merasa senang, sementara yang
kalah akan sedih.
d. Usia antara 5 sampai 12
tahun
1) Pada usia 5-6 anak mulai
mempelajari kaidah dan aturan yang berlaku. Anak mempelajari konsep keadilan
dan rahasia.Anak mulai mampu menjaga rahasia.Ini adalah keterampilan yang
menuntut kemampuan untuk menyembunyikan informasi- informasi secara.
2) Anak usia 7-8 tahun
perkembangan emosi pada masa ini anak telah menginternalisasikan rasa malu dan
bangga. Anak dapat menverbalsasikan konflik emosi yang dialaminya. Semakin
bertambah usia anak, anak semakin menyadari perasaan diri dan
orang lain.
3)
Anak usia 9-10 tahun anak dapat mengatur ekspresi
emosi dalam situasi sosial dan dapat berespon terhadap distress emosional yang
terjadi pada orang lain. Selain itu dapat mengontrol emosi negative seperti
takut dan sedih. Anak belajar apa yang membuat dirinya sedih, marah atau takut
sehingga belajar beradaptasi agar emosi tersebut dapat dikontrol (Suriadi &
Yuliani, 2006).
4)
Pada masa usia 11-12 tahun, pengertian anak tentang
baik-buruk, tentang norma-norma aturan serta nilai-nilai yang berlaku di
lingkungannya menjadi bertambah dan juga lebih fleksibel, tidak sekaku saat di
usia kanak-kanak awal. Mereka mulai memahami bahwa penilaian baik-buruk atau
aturan-aturan dapat diubah,tergantung dari keadaan atau situasi munculnya
perilaku tersebut. Nuansa emosi mereka juga makin beragam.
G. Fungsi emosi pada anak
Fungsi dan peranan emosi pada perkembangan anak yang
dimaksud adalah :
a. Merupakan bentuk komunikasi.
b. Emosi berperan dalam mempengaruhi kepribadian dan penyesuaian diri
anak dengan lingkungan sosialnya.
c. Emosi dapat mempengaruhi iklim psikologis lingkungan.
d. Tingkah laku yang sama dan ditampilkan secara berulang dapat menjadi
satu kebiasaan.
e. Ketegangan emosi yang di miliki anak dapat menghambat aktivitas
motorik dan mental anak (Resa, 2010).
9. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi
a. Keadaan anak
Keadaan individu pada anak, misalnya cacat tubuh ataupun kekurangan pada
diri anak akan sangat mempengaruhi perkembangan emosional, bahkan akan
berdampak lebih jauh pada kepribadian anak. Misalnya: rendah diri, mudah
tersinggung, atau menarik diri dari
lingkunganya.
b. Faktor belajar
Pengalaman belajar anak akan menentukan reaksi potensial mana yang mereka
gunakan untuk marah. Pengalaman belajar yang menunjang perkembangan emosi
antara lain:
1) Belajar dengan coba-coba
Anak belajar dengan coba-coba untuk mengekspresikan emosinya dalam bentuk
perilaku yang memberi pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberi kepuasan.
2) Belajar dengan meniru
Dengan cara meniru dan mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang
lain, anak bereaksi dengan emosi dan metode yang sama dengan orang-orang yang
diamati.
3) Belajar dengan mempersamakan diri
Anak meniru reaksi emosional orang lain yang tergugah oleh rangsangan
yang sama dengan rangsangan yang telah membangkitkan emosi orang yang ditiru.
Disini anak hanya meniru
orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya.
4) Belajar melalui pengondisian
Dengan metode ini objek, situasi yang mulanya gagal memancing reaksi
emosional kemudian berhasil dengan cara asosiasi. Pengondisian terjadi dengan
mudah dan cepat pada awal- awal kehidupan karena anak kecil kurang menalar,
mengenal betapa tidak rasionalnya reaksi mereka.
5) Belajar dengan bimbingan dan pengawasan.
Anak diajarkan cara bereaksi yang dapat diterima jika suatu emosi
terangsang. Dengan pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap
rangsangan yang biasanya membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar
tidak bereaksi secara emosional terhadap rangsangan yang membangkitkan emosi
yang tidak menyenangkan (Fatimah, 2006)
c.Konflik – konflik dalam proses perkembangan
Setiap anak melalui berbagai konflik dalam menjalani fase-fase
perkembangan yang pada umumnya dapat dilalui dengan sukses. Namun jika anak tidak dapat mengamati
konflik-konflik tersebut,biasanya mengalami gangguan-gangguan emosi
d.Lingkungan keluarga
Salah satu fungsi keluarga adalah sosialisasi nilai keluarga mengenai
bagaimana anak bersikap dan berperilaku.Keluarga adalah lembaga yang pertama
kali mengajarkan individu (melalui contoh yang diberikan orang tua) bagaimana
individu mengeksplorasi emosinya.Keluarga merupakan lingkungan pertama dan
utama bagi perkembangan anak.Keluarga sangat berfungsi dalam menanamkan
dasar-dasar pengalaman emosi, karena disanalah pengalaman pertama didapatkan
oleh anak. Keluarga merupakan lembaga pertumbuhan dan
belajar awal ( learning and growing ) yang dapat mengantarkan anak menuju
pertumbuhan dan belajar selanjutnya.
Gaya pengasuhan keluarga akan sangat berpengaruh
terhadap perkembangan emosi anak. Apabila anak dikembangkan dalam lingkungan
keluarga yang emosinya positif, maka perkembangan emosi anak akan menjadi
positif. Akan tetapi, apabila kebiasaan orang tua dalam mengekspresikan
emosinya negatif seperti, melampiaskan kemarahan dengan sikap agresif, mudah
marah, kecewa dan pesimis dalam menghadapi masalah, maka perkembangan emosi
anak akan menjadi negatif (Syamsu, 2008).
Keterkaitan secara teoritik antara lingkungan
keluarga dengan pengungkapan emosi juga dijelaskan oleh Goleman (2000), yang meninjau
terjadinya proses pengungkapan emosi sejak awal yaitu pada masa anak-anak.
Goleman (2000) menjelaskan bahwa cara-cara yang
digunakan orang tua untuk menangani masalah anaknya memberikan pelajaran
yang membekas pada perkembangan emosi anak. Gaya mendidik orang tua yang
mengabaikan perasaan anak, yang tercermin pada persepsi negatif orang tua
terhadap emosi, emosi anak dilihat sebagai gangguan atau sesuatu yang selalu
direspon orang tua dengan penolakan. Pada masa dewasa, anak tersebut tidak akan
menghargai emosinya sendiri yang menimbulkan keterbatasan dalam mengungkapkan
emosinya. Sebaliknya, pada kelurga yang menghargai
emosi anak yang dibuktikan dengan penerimaan orang tua terhadap ungkapan
emosi anak, pada masa dewasa nanti anak akan menghargai emosinya sendiri
sehingga ia mampu mengungkapkan emosinya pada
orang lain.
Pengertian bakat
Peserta didik adalah anak-anak yang memiliki ciri-ciri istimewa, misalnya
bakat yang diturunkan dari orang tua dan atau nenek moyangnya. Setiap individu
memiliki karakteristik yang berbeda-beda, termasuk dalam bidang dan kadar dari
bakat yang dimilikinya.
Beberapa definisi bakat dikemukakan oleh sejumlah ahli psikologi dan
pendidikan. Branca (Fudyartanta, 2004) misalnya, seorang ahli yang
membahas tentang bakat dan kreativitas, mengungkapkan bahwa
”An aptitude is an ability that is regarded as an indication of how
well
individual can learn with training and practice, some particular skill or
knowledge”.
Freeman (Fudyartanta, 2004) memberikan definisi yang senada yaitu
“An aptitude is a combination characteristics indicative an individual’s
capacity to acquire (with training) some specific knowledge, skill or set of
organized responses, such as the ability to speak a language, to become a
musician, to do mechanical work.”
Di tempat lain, Renzulli (Munandar, 1999) mengungkapkan bahwa yang
menentukan keberbakatan seorang individu tidak hanya karena kemampuan umumnya
berada di atas rata-rata, melainkan juga kreativitas dan pengikatan diri
terhadap tugas (task commitment).
Dengan bakat, memungkinkan seseora ng untuk mencapai prestasi dalam
bidang tertentu. Tetapi, untuk mewujudkan bakat ke dalam
suatu prestasi diperlukan latihan, pengetahuan, pengalaman, dan motivasi.
Jika seseorang yang memiliki potensi bakat musik tetapi tidak memperoleh
kesempatan mengembangkannya, maka bakat tersebut tidak akan berkembang dan
terwujud dengan baik (menghasilkan prestasi). Sebaliknya anak yang pada
dasarnya memiliki bakat musik dan orang tuanya mendukung, ia akan mengusahakan
agar anaknya memperoleh pengalaman untuk mengembangkan bakatnya dan dengan
motivasi yang tinggi dapat berlatih
sehingga bakatnya berkembang maksimal dan memperoleh prestasi.
Berkaitan dengan hal tersebut, U.S. Office of Education menekankan bahwa
anak berbakat memerlukan pelayanan dan program pendidikan khusus sesuai
denganpotensi, minat, dan kemampuan agar dapat merealisasikan sumbangan mereka
terha-dap masyarakat dan untuk pengembangan diri sendiri. Jadi, bakat adalah
seberapa baik seseorang memiliki kemampuan pada bidang pengetahuan atau
ketrampilan khusus dengan berlatih.Bakat dapat dikembangkan secara maksimal
melalui latihan dengan motivasi yang tinggi. Selain itu,
bakat ditentukan oleh seberapa baik kemampuan umum, kreativitas, dan
komitmen siswa dalam menyelesaikan tugas. Bakat yang berkembang secara maksimal
akan memberikan sumbangan yang berarti, baik untuk masyarakat maupun untuk
pengembangan diri siswa yang bersangkutan.
Jenis-jenis Bakat Khusus
Berkaitan dengan adanya perbedaan individual, setiap anak memiliki bakat
yang berbeda-beda. Semiawan dan Munandar (Ali & Asrori, 2005)
mengklasifikasikan jenis-jenis bakat khusus, baik yang masih berupa potensi
maupun yang sudah terwujud, menjadi lima bidang, yaitu: (1) bakat akademik
khusus, (2) bakat kreatif produktif, (3) bakat seni, (4)
bakat kinestetik/psikomotorik, serta bakatsosial
Termasuk ke dalam bakat akademik khusus, misalnya bakat untuk memahami
konsep yang berkaitan dengan angka-angka (numeric), logika bahasa
(verbal), dan sejenisnya. Bakat khusus dalam bidang kr eatif-produktif artinya
bakat dalam hal menciptakan sesuatu yang baru, misalnya menghasilkan program
komputer terbaru,
arsitektur terbaru, dan sejenisnya. Bakat khusus kreatif produktif akan
dibahas lebih
mendalam pada subunit 3. Bakat khusus da lam bidang seni, misalnya mampu
mengaransemen musik yang digemari banyak orang, menciptakan lagu dalam
waktu yang singkat, dan mampu melukis dengan in dah dalam waktu yang relatif
singkat. Bakat khusus kinestetik/psikomotorik, antara lain sepak bola dan bulu
tangkis. Adapun bakat khusus di bidang social antara lain mahir melakukan
negosiasi, menawarkan suatu produk, berkomunikasi dalam organisasi, dan mahir
dalam, kepemimpinan.
Hubungan antara Bakat dan Prestasi
Menurut Munandar (Ali & Asrori, 2005)perwujudan nyata dari bakat
adalah
prestasi karena bakat sangat menentukan prestasi seseorang.
Sekalipun demikian orang yang berbakat belum tentu berprestasi.Hal ini
karenat bakat bersifat potensial yang membutuhkan latihan dan pengembangan
secara maksimal. Bakat khusus yang dikembangkan sejak dini akan dapat
terealisasi dalam bentuk prestasi unggul.
Berdasarkan penelitian terakhir, ditem ukan bahwa sekitar 20% siswa SD
dan SMP menjadi anak yang underachiever, artinya prestasi belajar yang
mereka peroleh berada di bawah potensi atau bakat intelektual yang sesungguhnya
mereka miliki.
Pengertian kreativitas
Kreativitas adalah nkemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan,
dan orisinalitas dalam berpikir serta kemampuan untuk mengelaborasi suatu
gagasan
.” Utami Munandarmembahas lebih mendalam bahwa kreativitas merupakan
hasil interaksi individu dengan lingkungannya. Lingkungan dapat mendukung
berkembangnya kreativitas
dan dapat menghambat perkembangannya.
Kreativitas dapat muncul dalam situasi kebersamaan dan relasi yang
bermakna.
Berdasarkan berbagai definisi kreativitas itu, Rhodes (Munandar, 1999)
mengelompokkan berbagai definisi tersebut ke dalam empat kategori, yaitu
person (pribadi) , press (pendorong) , process (proses), dan product
(produk).
Berdasarkan penjelasan Sternberg, sejumlah definisi kreatif yang
tergolong ke dalam kategori pribadi menyimpulkan bahwa pribadi dari individu
yang kreatif merupakan titik pertemuan antara intelegensi (antara lain
kemampuan verbal, pemikiran lancar, pengetahuan, perencanaan, perumusan
masalah, dan keterampilan pengambilan keputusan); gaya kognitif (antara lain
menciptakan aturan sendiri, melakukan hal-hal dengan caranya sendiri, menyukai
masalah yang tidak terlalu terstruktur, dan senang merancang); dan
kepribadian/motivasi (antara lain kelenturan, dorongan untuk berprestasi,
keuletan dalam menghadapi rintangan, dankeberanian mengambil resiko yang
moderat) (Munandar, 1999).
Kategori proses, Torrance (Sternberg dalam Munandar, 1999) mengungkapkan
bahwa proses kreatif pada dasarnya serupa dengan langkah-langkah dalam metode
ilmiah, yaitu kesadaran adanya kesulitan/masalah, membuat dugaan dan hipotesa,
menguji dugaan/hipotesis, mengevaluasi dan menguji ulang hipotesis,serta
menyimpulkan hasil temuan.
Kategori pendorong tidak hanya berasal dari diri sendiri (internal)
tetapi juga dari lingkungan (eksternal).Simpson menjelaskan bahwa dorongan
internal yaitu kekuatan untuk menyelesaikan masalah dengan tahapan yang tidak
sesuai dengan ketentuan (Munandar 1999).Mengenai dorongan dari lingkungan,
kreativitas tidak berkembang pada lingkungan yang tidakmenghargai imajinasi,
lingkungan yang terlalu menekankan konformitas dan tradisi, dan kurang terbuka
terhadap perubahan (Munandar 1999).
Kategori produk kreatif menekankan defnisinya pada orisinalitas,
kebaruan,
dan kebermaknaan. Produk yang dihasilkan merupakan kombinasi dari sesuatu
yang sudah ada sebelumnya, sebagai contoh misalnya kursi roda merupakan
perpaduan antara kursi dan roda.Produk kreatif mem iliki karakteristik yaitu
produk tersebut harus nyata, baru, dan merupakan hasil unik individu dalam
interaksinya dengan lingkungannya (Rogers dalam Munandar, 1999).
Keempat kategori P ini saling berkaitan. Pribadi kreatif yang melibatkan
diri dalam proses kreatif, dengan dukungan/dorongan dari lingkungan
menghasilkan suatu produk keratif. Dengan demikian, penting mengembangkan bakat
kreatifseorang anak sejak dini yang dimulai dengan dorongan dari lingkungan,
terutama lingkungan keluarga.
Hubungan antara Kreativitas dan Intelegensi
Apakah orang yang kreatif selalu memiliki intelegensi yang tinggi, atau
apakah seseorang yang intelegensinya tinggi juga kreatif? Berdasarkan teori
”ambang intelegensi untuk kreativitas”, sampai tingkat intelegensi
tertentu yang diperkirakan seputar IQ 120, ada hubungan yang erat antara
intelegensi dan kreativitas.Produk kreativitas yang tinggi memerlukan tingkat
intelegensi yang tinggi pula. Teori ini menemukan pula bahwa di atas ambang
tersebut (IQ > 120) tidak ada korelasi yang tinggi lagi antara intelegensi
dan kreativitas (Anderson,dalam Munandar, 1999).
Hurlock (1978) mengemukakan bahwa tidak semua orang dengan kecerdasan
yang tinggi merupakan pencipta. Misalnya, banyak anak yang mencapai
keberhasilan akademis, tetapi hanya sedikit yang menunjukkan cara berpikir
kreatif. Korelasi yang tinggi antara kecerdasan dan kreativitas sebagian besar
bergantung pada faktor di luar kreativitas dan kecerdasan.Faktor dalam
lingkungan atau dalam diri seseorang sering mengganggu perkembangan
kreativitas. Misalnya, cara mendidik anak yangterlalu otoriter di rumah atau di
sekolah selama kanak-kanak akan membekukan kreativitas mereka, tetapi tidak
mempengaruhi kecerdasan. Kondisi demikian menggambarkan hubungan yang rendah
antara kreativitas dan kecerdasan.Di satu sisi, terdapat hubungan positif
antara kecerdasan dan kreativitas.Kreativitas yang mengarah ke penciptaan
sesuatu yang baru bergantung pada kemampuan untuk mendapatkan pengetahuan yang
sudah umum diterima.Pengetahuan tersebutkemudian diolah ke dalam bentuk baru
dan orisinal. Kreativitas tidak dapat berfungsi di dalam kekosongan,
kreativitas menggunakan pengetahuan yang diterima
sebelumnya dan bergantung pada kemampuan intelektual seseorang (Hurlock,
1978).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa se kalipun ada hubungan positif
antarakreativitas & kecerdasan, namun indeks hubungannya rendah.Orang yang
cerdas belum tentu kreatif.Lingkungan merupakan faktor penting dalam
menentukanpengembangan bakat kreatif berdasarkan kecerdasan yang dimiliki anak.
Materi Ajar
·
Benda plastis dan elastis
·
Sifat benda elastis, makin besar pertambahan
panjang makin besar gaya pegas (hukum Hooke)
·
Stress, strain, dan modulus elastisitas
Stress
Strain
Strain
·
Konstanta pegas
·
Susunan pegas seri dan paralel
Seri, pegas semakin lemah
Paralel, pegas semakin
kuat
Metode Pembelajaran
Metode yang digunakan adala metode belajar kognitif khusunya Discovery
Learning
Alasan: di teori ini siswa diharuskan mencari pemahaman setelah diberikan
panduan pada guru. Guru memberikan materi yang diajarkan adalah teori umum.
Kemudian siswa akan mencari lebih lanjut secara khususnya. Agar melatih siswa
ke pembentukan pola piker yang terbaik bagi mereka. Karena pada tahap ini anak
remaja maka ia sudah bias memilih yang yang benar tanpa ada doktrinasi.
Strategi metode:
·
Demonstrasi dan Eksperimen
·
Dikusi kelompok
·
Presentasi
·
Penugasan
Multiple Intelegensi By Howard Gardner
Konon para ahli menemukan 150
jenis kecerdasan manusia. Cukup lama orang beranggapan bahwa IQ ( intelligence
quotient ) merupakan penentu kesuksesan belajar dan hidup seseorang. Seperti
anggapan bahwa IQ-nya tinggi maka ia akan sukses dalam kehidupan nyata. Namun
pernyataan itu tidak selalu benar. Banyak orang IQ – nya tinggi tetapi gagal
dalam hidup. Maka disadari bahwa IQ meskipun tinggi namun bukan segala–galanya.
Perlu disadari pula dengan penemuan SQ ( spiritual quotient) dan EQ ( emotional
quotient ) maka IQ, EQ, dan SQ perlu dikembangkan secara bersamaan, agar
seseorang berhasil. Prof. Dr.Howard Gardner seorang psikolog dan ahli
pendidikan dari Universitas Harvard AS merumuskan teorinya Multiple
Intelligences ( kecerdasan ganda / majemuk ).
Dengan latar belakang standar
kecerdasan dan kegagasan rasionalisme dimana kecerdasan ditinjau dari IQ yang
tinggi, maka Garder membuat riset dengan memberi contoh bahwa orang berhasil
tidak hanya mengandalkan IQ tinggi yaitu Maradona (Brasil) dan Ronaldinho (Argentina
) pemain sepak bola , Mozart dengan usia 4 th sudah mahir memainkan piano,
Beethoven dan Kenny G yang sangat cerdas pula memainkan alat musik.
Prof. Dr.Howard Gardner mengemukakan 9 kecerdasan yaitu:
Inteligensi linguistik ( Linguistic intelligence)•
Kemampuan untuk menggunakan dan mengolah kata – kata secara efektif baik secara
oral/lisan maupun secara tertulis. Kemampuan ini berkaitan dengan penggunaan
bahasa secaa umum. Orang yang memiliki intelegensi linguistik tinggi akan
berbahasa dengan lancar, baik, dan lrngkap. Ia mudah untuk mengembangkan
pengetahuan dan kemampuan berbahasa, mudah belajar beberapa bahasa. Orang
tersebut dengan mudah mengerti urutan dan arti kata-kata dalam belajar bahasa.
Mereka mudahuntuk menjelaskan, mengajarkan, dan menceritakan pemikirannya pada
orang lain. contohnya pencipta puisi, editor , jurnalis, dramawan, sastrawan,
orator Tokoh terkenal seperti : Sukarno, Paus Yohanes Paulus II, Winston
Churhill.
2. Inteligensi matematis-logis (
Logical – mathematical intelligence )
Kemampuan ini berkaitan dengan penggunaan
bilangan dan logika secara efektif. Orang yang memiliki intelegensi
matematis-logis sangat mudah membuat klasifikasi dan kategorisasi dalam
pemikiran serta cara mereka bekerja. Dalam menghadapi banyak persoalan, dia
akan mencoba mengelopokkannya sehingga mudah dilihat mana yang pokok dan yang
tidak, mana yang berkaitan antara satu dan lainnya, serta mana yang merupakan
persoalan lepas. Maka dia tidak mudah bingung. Pemikiran orang dengan intelegensi
matematis-logis adalah induktifdan dedukti, jalan pikiran bernalar dengan mudah
mengembangkan pola sebab akibat. contohnya
matematikus, programer, logikus. Tokoh terkenal seperti : Einstein ( ahli
fisika ), Habibie ( ahli pesawat )
3. Inteligensi ruang-visual
(Spatial intelligence )
Kemampuan untuk menangkap dunia ruang visual
secara tepat dan kemampuan untuk mengenal bentuk dan benda secara tepat serta
mempunyai daya imaginasi secara tepat. Meski melihat dari jauh, ia dapat
memperkirakan letak benda itu. Orang yang memiliki intelegensi ruang-visual
tinggi punya persepsi yang tepat tentang suatu benda dengan ruang disekitarnya,
ia dapat memandang dari berbagai sudut. Maka, ia dapat menggambarkan kedudukan
ruang dengan baik. contohnya pemburu, arsitek, dekorator. Tokoh terkenal
seperti Sidharta ( pemahat ), Pablo Pacasso ( pelukis )
4. Inteligensi kinestetic-badani
(bodily- kinesthetic intelligence )
Kemampuan
menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan.
Orang yang memiliki intelegensi kinestik-badani dengan mudah dapat
mengungkapkan diri dengan gerak tubuh mereka. Apa yang mereka pikirkan dan
rasakan dengan mudah diekspresikan dengan gerak tubuh, dengan tarian dan
ekspresi tubuh. Mereka juga dengan mudah dapat memainkan mimik, drama, dan
peran. Mereka dengan mudah dan cepat melakukan gerak tubuh dalam olahraga
dengan segala macam variasinya. Yang sangat menonjol dalam diri mereka adalah
koordinasi dan fleksibilitas tubuh yang begitu besar. contohnya aktor, atlet, penari ahli bedah.
Tokoh terkenal seperti : Charlie Chaplin ( pemain pantonim yang ulung ), Steven
Seagal ( actor )
5. Inteligensi musikal ( Musical
intelligence )
Kemampuan untuk mengembangkan ,
mengekspresikan dan menikmati bentuk – bentuk musik dan suara, peka terhadap
ritme, melodi, dan intonasi serta kemampuan memainkan alat musik, kemampuan
menyanyi, kemampuan menciptakan lagu, kemampuan untuk menikmati lagu, musik dan
nyanyian.
contohnya komponis .Tokoh
terkenal seperti Beethoven, Mozart.
6. Inteligensi interpersonal (
Interpersonal intelligence )
Kemampuan untuk mengerti dan
menjadi peka terhadap perasaan , intensi, motivasi, watak, temperamen orang
lain. Kepekaan akan ekspresi wajah, suara, isyarat dari orang lain juga
termasuk dalam intelegensi inti. Secara umum intelegensi interpersonal berkaitan
dengan kemampuan seseorang untuk menjalin relasi dan komunikasi dengan berbagai
orang. Orang yang kuat dalam intelegensi interpersonalnya biasanya sangat mudah
bekerja sama dengan orang lain, dan mudah berkomunikasi dengan orang lain.
Hubungan dengan orang lain bagi mereka menyenangkan dan sepertinya keluar
begitu saja secara otomatis.
contohnya komunikator,
fasilitator. Tokoh terkenal Mahatma Gandhi ( tokoh perdamaian India ), Ibu
Teresa ( Pejuang kaum miskin )
7. Inteligensi intrapersonal (
Intrapersonal intelligence )
Kemampuan berkaitan dengan
pengetahuan akan diri sendiri dan kemampuan untuk bertindak secara adaptif
berdasar pengalaman diri serta mampu berefleksi dan keseimbangan diri. Orang
ini punya kesadaran tinggi akan gagasan – gagasannya dan mempunyai kemampuan
untuk mengambil keputusan pribadi. Ia sadar akan tujuan hidupnya, ia juga dapat
mengatur perasaan dan emosinya sehingga kelihatan tetap tenang. Orang yang
menonjol dalam intelegensi intrapersonal biasanya mudah berkonsentrasi dengan
baik, dapat mengekspresikan perasaan-perasaan mereka yang berbeda dengan
tenang, pengenalan akan diri sendiri lebih mendalamdan seimbang, orangnya
kebanyakan reflektif, suka bekerja sendiri dan cenderung pendiam
contohnya para pendoa batin dan
pembimbing rohani.
8. Inteligensi lingkungan /
naturalis ( Naturalist intlligence )
Kemampuan untuk mengerti flora
dan fauna dengan baik, menikmati alam, mengenal tanaman dan binatang dengan
baik. Orang yang punya intelegensi lingkungan tinggi biasanya mampu hidup
diluar rumah, dapat berkawan dan berhubungan baik dengan alam, mudah membuat
identifikasi dan klasifikasi tanaman dan binatang. Orang ini mempunyai
kemampuan mengenal sifat dan tingkah laku binatang, biasanya mencintai
lingkungan, dan tidak suka merusak lingkungan.
Tokoh terkenal Charles Darwin
(dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasikan serangga, burung, ikan, mamalia,
dan mengembangkan teori evolusi.
9. Inteligensi eksistensial (
Exixtential intlligence )
Kemampuan menyangkut kepekaan dan
kemampuan seseorang untuk menjawab persoalan – persoalan terdalam keberadaan
atau eksistensi manusia. Orang tidak puas hanya menerima keberadaannya secara
otomatis, tetapi mencoba menyadarinya dan mencari jawaban yang terdalam.
Inte;egensi ini tampaknya sangat berkembang pada banyak filsuf, terlebih filsuf
eksistensialis yang selalu mempertanyakan dan mencoba menjawab persoalan
eksistensi hidup manusia.
contohnya persoalan mengapa ada,
apa makna hidup ini. Tokoh terkenal seperti Plato, Sokrates, Thomas Aquina.
Alat/Media/Bahan
·
Alat :
pegas/karet, neraca pegas, mistar, statif
· Bahan ajar : buku pegangan
Fisika jilid 1, Buku Fisika Penunjang Aktifitas Siswa, mechanics 1 dan 2, dan hands out
Langkah
Kegiatan/Skenario Pembelajaran
Setelah mereviu hasil pencapaian kompetensi (KD)
sebelumnya, siswa mengikuti peragaan menarik pegas, mengukur panjangnya, dan
membaca skala gaya neraca pegas untuk menemukan rumusan hukum Hooke, serta
menentukan konstanta pegas. Selanjutnya memalui diskusi, mendefinisikan konsep
stress, strain, dan modulus elastisitas; menemukan rumusan untuk susunan pegas
seri dan paralel; dan memecahkan masalah elastitas dan gaya pegas. Siswa dari
perwakilan dua kelompok praktik mempresesntasikan hasil percobaan dan penerapan
elastisitas dalam kehidupan dan teknologi. Selama proses pembelajaran dilakuan
penilaian proses pada aktivitas di kelas dan hasil tugas mandiri.
Pertemuan pertama
|
Rincian Kegiatan
|
Waktu
|
|
Pendahuluan
· Merefleksi hasil kompetensi (KD)
sebelumnya tentang gerak melingkar
· Mejelaskan kaitan elastisitas
dengan hukum Newton (KD sebelumnya) dan gerak getaran (KD yang akan datang)
· Menyampaikan tujuan pembelajaran
· Bertanya dan menagih secara lisan
tugas baca mencari informasi tentang elastisitas melalui berbagai sumber
(buku, internet, atau modul)
· Melaksanakan pretes tentang
karakteristik benda elastis
|
20 menit
|
|
Kegiatan Inti
· Siswa dibagi dalam kelompok kecil,
masing-masing terdiri atas 4 orang
· Siswa dalam kelompok diminta untuk
menarik dua karet berbeda jenis, kemudian membandingkan kekuatannya, mana
yang lebih kuat
· Siswa Mencermati demonstrasi
percobaan. Perwakilan kelompok mencatat hasil bacaan panjang pegas/karet
awal, pertambahan panjang, dan skala neraca pegas. Kemudian menyimpulkan
hubungan antara pperubahan panjang dengan besar gaya (skala neraca pegas).
Kegiat
|
100 menit
|
|
Penutup
·
Bersama siswa menyimpulkan karakteristik
benda elastis dan hukum Hooke
·
Memberikan tugas baca tentang modulus
elastisitas dan susunan pegas
·
Melaksanakan postes
|
15 menit
|
Penilaian
1.
Mekanisme
dan prosedur
Penilaian
dilakukan dari proses dan hasil. Penilaian proses dilakukan melalui observasi
kerja kelompok, kinerja presentasi, dan laporan tertulis. Sedangkan penilaian
hasil dilakukan melalui tes tertulis.
2.
Aspek
dan Instrumen penilaian
Instrumen
observasi menggunakan lembar pengamatan dengan fokus utama pada aktivitas dalam
kelompok, kedisiplinan, dan kerjasama.
Instrumen
kinerja presentasi menggunakan lembar pengamatan dengan fokus utama pada
aktivitas peran serta, kualitas visual presentasi, dan isi presentasi
Instrumen
laporan praktik menggunakan rubrik penilaian dengan fokus utama pada kualitas
visual, sistematika sajian data, kejujuran, dan jawaban pertanyaan.
Instrumen
tes menggunakan tes tertulis uraian dan/atau pilihan ganda
3.
Contoh
Instrumen (Terlampir)
Sumber/Referensi
Buku Pegangan
Kurikulum 2013
Fisika Jilid 1
Lampiran
a.
Lembar
Observasi dan kinerja presentasi
LEMBAR
PENGAMATAN OBSERVASI
DAN
KINERJA PRESENTASI
Mata Pelajaran : Fisika
Kelas/Program : X/M-IPA
Kompetensi : KD 3.6
dan 4.6
|
No
|
Nama
Siswa
|
Observasi
|
Kinerja
Presentasi
|
Jml
Skor
|
NilaI
|
||||
|
Akt
|
Disl
|
Kerjsm
|
Prnsrt
|
Visual
|
Isi
|
||||
|
(1)
|
(2)
|
(3)
|
(4)
|
(5)
|
(6)
|
||||
|
1.
|
|
4
|
4
|
3
|
4
|
3
|
3
|
21
|
|
|
2.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
9.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Contoh Tes Uraian
1.
A
sign (m = 200 kg) hangs from the end of vertical steel girder with
cross-sectional area of 0.5 cm2 and 50 cm of length. The additional
of length is 2.5 cm in this situation
a.
What
is the strain and stress on the girder?
b.
Calculate
the modulus Young!
2.
Perhatikan
data percobaan berikut
Perhatikan data percobaan tentang pegas yang diberi beban (g = 10
m.s-2).
|
Exp
|
Mass (gram)
|
Panjang pegas (cm)
|
|
1)
|
50
|
32.0
|
|
2)
|
100
|
34.5
|
|
3)
|
250
|
42.0
|
|
4)
|
x
|
45.0
|
a.
Berapa
konstanta pegas (k)!
b.
Perkirakan
nila x pada percobaan ke 4!
3.
Sebuah
pegas mula-mula panjangnya 27,0 cm. Ketika diberi beban 100 gram panjang pegas
menjadi 29,5 cm. Berapa panjang pegas jika masa beban yang digantungkan 170
gram?
|
|
1.
Timbang
seluruh masa beban gantung kombinasi berikut dengan pengaitnya (Mo)
2.
Susun
alat seperti gambar
3.
Baca
skala yang ditunjukan mistar pada bagian bawah beban pada posisi awal (Lo)
4.
Ambil
satu beban dan catat masanya (m), kemudian baca skala pada mistar (L)
5.
Lakukan
percobaan dengan terus menerus mengambil masa beban. Lakukan pengukuran dengan
cermat dan teliti. Kemudian masukan data percobaan ke dalam tabel berikut ini
Data
Percobaan
Mo =
................ kilogram
Lo =
.................meter
|
Perc Ke
|
Total masa yang diambil
(m)
|
Bacaan Mistar
(L)
|
|
1.
|
|
|
|
2.
|
|
|
|
3.
|
|
|
|
4.
|
|
|
|
5.
|
|
|
|
6.
|
|
|
|
7.
|
|
|
6.
Buatlah
grafik dengan m sebagai sumbu x dan L sebagai sumbu y
7.
Jawablah
pertanyaan berikut ini
a.
Tuliskan
persamaan grafik yang terbentuk
b.
Hitung
gradiennya
c.
Amati
data percobaan, kemudian hitung besar konstanta pegas (k)
d.
Tentukan
titik potong sumbu X (Xo) dan titik potong sumbu Y (Yo)
e.
Jika
sebuah tetapan Q = grad x k, hitunglah nilai tetapan Q!
Catatan:
Kontrol
ketelitian dan kejujuran data adalah: grafik berbentuk turun, gradien negatif
dan nilai Q mendekati nilai percepatan gravitasi.
8.
Buatlah
laporan praktik dengan struktur seperti berikut. Gunakan laptop/komputer atau
kalkulator untuk mendapatkan grafik dan persamaan garis yang akurat. Kirim
laporan melalui email tryan0k@gmail.com
Struktur
laporan adalah sebagai berikut
a.
Judul
b.
Tujuan
c.
Landasan
teori
d.
Alat
dan bahan (sertakan dengan gambar atau foto)
e.
Langkah
kerja
f.
Data
percobaan
g.
Jawaban
pertanyaan
h.
Kesimpulan
i.
Referensi
Disini guru memberikan solusi untuk mengatasi kejenuhan dalam belajar
dengan mengajaknya bermain berkelompok
Badai
Berhembus (The Great Wind Blows
Strategi ini merupakan icebreaker
yang dibuat cepat yang membuat para peserta latihan bergerak tertawa. Strategi
tersebut merupakan cara membangun team yang baik dan menjadikan para peserta
lebih mengenal satu sama lain.
Langkah-langkah :
·
Aturlah kursi –kursi ke dalam sebuah lingkaran.
Mintalah peserta untuk duduk di kursi yang telah disediakan.
·
Jelaskan kepada peserta aturan permainan, untuk
putaran pertama pemandu akan bertindak sebagai angin.
·
Pemandu sebagai angin akan mengatakan ‘ angin
berhembus kepada yang memakai – misal : kacamata’ (apabila ada beberapa peserta
memakai kacamata).
·
Peserta yang memakai kacamata harus berpindah
tempat duduk, pemadu sebagai angin ikut berebut kursi.
·
Akan ada satu orang peserta yang tadi berebut
kursi, tidak kebagian tempat duduk. Orang inilah yang menggantikan pemandu
sebagai angin.
·
Lakukan putaran kedua, dan seterusnya. Setiap
putaran yang bertindak sebagai angin harus mengatakan ‘angin berhembus kepada
yang …………. (sesuai dengan karakteristik peserta, misal : baju biru, sepatu
hitam, dsb)
============================
2. Lempar spidol
Permainan
ini bertujuan untuk menghangatkan suasana dan menghilangkan kekakuan antar
peserta dan pemandu dan antar peserta sendiri . Pelajaran yang bisa dipetik
dari permainan ini adalah perlunya sikap hati–hati dan cepat tanggap.
Langkah–langkah :
·
Mintalah semua peserta berdiri bebas di depan
tempat duduk masing-masing.
·
Minta peserta bertepuk tangan ketika Anda
melemparkan spidol ke udara, dan pada saat spidol Anda tangkap lagi dengan
tangan, semua peserta serta merta diminta berhenti bertepuk tangan. Ulangi
sampai beberapa kali.
·
Ulangi proses ke-2 dengan tambahan selain bertepuk
tangan juga bersenandung. ( bergumam ) : “Mmmmm….!”.
·
Ulangi proses ke–3 ini beberapa kali, dan setiap
kali semakin cepat gerakannya, kemudian akhiri dengan satu anti klimaks: spidol
Anda tidak dilambungkan, tapi hanya melambungkan tangan seperti akan
melambungkannya ke atas (gerak tipu yang cepat !). amati : apakah peserta masih
bertepuk tangan dan bergumam atau tidak ?
·
Mintalah tanggapan dan kesan, lalu diskusikan dan
analisa bersama kemudian simpulkan.
============================
3. Sepatu Lapangan :
Permainan
ini bermanfaat untuk mendorong proses kerjasama Tim, bahwa dalam sebuah Tim
setiap orang akan belajar mendengar pendapat orang lain dan merekam
masing-masing pendapat secara cermat dalam pikirannya, sebelum memutuskan
pendapat apa yang terbaik menurut kelompok.
Langkah – langkah :
·
Bagilah peserta ke dalam kelompok – kelompok kecil
( 5 – 6 orang ), 1 orang akan menjadi pembicara kelompok.
·
Mintalah setiap kelompok untuk mendiskusikan
tentang sepatu lapangan apa yang cocok untuk bekerja di ‘lapangan’ dan
peralatan apa lagi yang dibutuhkan (waktunya sekitar 5 menit)
·
Mintalah pembicara kelompok untuk mengingat
pendapat yang berbeda dan pendapat yang sama dari setiap orang di kelompoknya
masing-masing.
·
Mintalah pembicara kelompok untuk menyampaikan
hasil diskusi ini seklaigus memperkenalkan nama anggota kelompoknya dan apa
pendapat orang – orang tersebut mengenai topik diskusi di atas.
·
Setelah semua kelompok selesai, kemudian diskusikan
: Apakah pembicara telah menyampaikan pendapat semua anggota kelompoknya secara
tepat ? Apa yang dikurangi? Apa yang ditambah ? Apa yang tidak tepat.
============================
4. Kompak
Permainan
ini bermanfaat untuk menghangatkan suasana dan membentuk suasana kerja dalam
Tim.
Langkah–langkah :
·
Jelaskan kepada peserta aturan permainan ini
·
Bagilah peserta ke dalam 5 – 6 kelompok, yang
penting satu kelompok terdiri dari 6 orang.
·
Mintalah masing – masing kelompok untuk membuat
lingkaran dan satu orang anggota dari masing-masing kelompok untuk berdiri di
tengah – tengah kelompoknya.
·
Katakana bahwa permainan ini untuk mnguji kita ,
apakah di antara teman-teman dalam kelompok itu saling percaya kepada TIM KERJA
KITA. Yang berdiri di tengah harus menutup matanya, dengan ditutup kain,
kemudian menjatuhkan diri secara bebas kea rah mana saja.
·
Sementara itu teman-teman dalam kelompoknya
melingkar dan harus bertanggungjawab atas keselamatan teman yang di tengah
tadi, karena permainan ini bisa – bisa akan memakan korban, maka jika yang di
tenagh menjatuhkan diri kepadanya dia harus siap dan bertanggungjawab untuk
menahan dan melemparkannya kepada teman yang lain. Begitu seterusnya, dan minta
siapa yang di tengah bisa bicara dengan cara bergiliran .
============================
5. Bercermin
Langkah–langkah :
·
Minta setiap peserta untuk berpasangan, 1 orang
menjadi bayangan di cermin dan 1 orang menjadi seseorang yang sedang berdandan
di depan cermin.
·
Bayangan harus mengikuti gerak – gerik orang yang
berdandan.
·
Keduanya harus bekerja sama agar bisa bergerak
secara kompak dengan kecepatan yang sama.
·
Minta peserta untuk mendiskusikan apa pesan dalam
permainan inI.
Daftar
Pustaka
Azwar, saifuddin. 1998. Sikap Manusia: Teori Dan Pengukurannya
Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Jalaludin.
1996. Psikologi agama Jakarta: PT. Grafindo Persada
Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan
Yogyakarta : UNY Press
Suparno,
Paul. 2000. Teori Perkembangan Kognitif. Yogyakarta: PT. Kanisius.
Roymond,
Ns. 2008. Buku Ajar Kependidikan Dalam Keperawatan Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC
Zimmer,
Ratih. 2009. Mengoptimalkan IQ & EQ Anak Melalui Sensomotorik.
Jakarta: Penerbit Libri.
http://ayahalby.files.wordpress.com/2013/04/kognitif-dan-moral-2013.pdf
diakses pada Minggu, 29 Juni 2014
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/110/jtptunimus-gdl-jumiatig2a-5475-3-babii.pdf
diakses pada Minggu, 29 Juni 2014
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/132280878/Pengemb%20sikap%20dan%20perilaku%20bermoral%20di%20sekolah-Majalah%20Ilmiah%20Pembelajaran-Mei-2011.pdf
diakses pada Minggu,
29 Juni 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar